Benyamin Gurik | Ketua KNPI Provinsi Papua | Tenang. Terukur. Berdampak.

Benyamin Gurik

Ketua KNPI Provinsi Papua

Berakar. Berkarya. Berdampak.
Blog Pribadi Benyamin Gurik

Kepemimpinan Pemuda Papua yang Tenang, Terukur, dan Berdampak

Blog ini menjadi ruang catatan, gagasan, refleksi, dan gerakan Benyamin Gurik dalam mendorong pemuda Papua agar bersatu, berdaya, berkarya, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat, daerah, dan Indonesia.

Personal Branding

Arah Karakter Benyamin Gurik

Branding pribadi ini dibangun bukan untuk pencitraan kosong, tetapi untuk menunjukkan karakter kepemimpinan yang berakar pada Papua, bekerja secara terukur, dan menghadirkan manfaat.

Tenang

Hadir sebagai figur muda yang tidak gaduh, tidak reaksioner, tetapi mampu membaca keadaan dengan kepala dingin dan hati jernih.

Terukur

Mengutamakan gagasan, data, strategi, program, dan arah kerja yang jelas dalam membangun pemuda Papua.

Berdampak

Mendorong setiap gagasan dan gerakan agar memberi manfaat nyata bagi pemuda, masyarakat, dan masa depan Papua.

Menyatukan

Membangun jembatan antara pemuda, OKP, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan seluruh kekuatan sosial Papua.

Berkolaborasi Untuk Kejayaan Pemuda Papua

••••••○●◇●○•••••••
Kopi hitam menjadi Nikmat karena ada campuran air, gula  dan biji kopi yg sdh di hancurkan. Salah satu saja kurang atau lebih, tak mungkin  bisa menjadi nikmat. Tanpa kopi, air dan gula tak ada arti. Tanpa air, bubuk kopi dan gula tak ada artinya. Salah satu diantara komponen ini lebih pun sama. Tak ada arti atau nilai sama sekali.  Begitulah sebaliknya dan seterusnya.

Kopi  tak dapat menepuk dada dan mengatakan kepada air dan gula bahwa, saya tidak butuh kalian walau yg disebut memang namanya. Tanpa air dan gula, bubuk kopi seharga miliaran rupiah seklipun tak ada nilainya. Begitupula Ayam Goreng atau Sayur Tumis  kepada minyak, bawang, rica atau bumbu-bumbu lainya. Karena kenikmatan dan keindahan tercipta dan dirasa berasal dari kerjasama yg indah, harmonis,  yg berpadu seimbang antar setiap komponen. Tidak ada yang  dominan, apalagi salah satu berkurang, atau yg lainya memilih tidak berperan sama sekali. Setiap pihak harus seimbang atau setara agar nikmatnya benar-benar terasa. Inilah Kolaborasi.

Masing-masing komponen bersatu dalam cangkir, wajan atau panci dan membentuk pola rasa yg biasa kita cicip di lidah lalu otak memberikan respon soal asam, manis, pahit, enak, nikmat dll sebagainya. Kopi hitam, Lalapan Lele atau Sayur Tumis dll sebagainya  didapat dari perpaduan zat yg berbeda-beda, tumbuh di alam yg lagi² tidak sama/berlainan. Ada yg di rawa, di kolam, di sungai, di laut, diladang bahkan di pegunungan dan  lain sebagainya. Dan karena berbeda dan berperan saling melengkapi seimbang maka kelezatan dan atau  kenikmatan tercipta. Inilah kolaborasi!

Refleksi yg dapat diambil dari catatan ini bahwa,  kesempurnaan, kenikmatan, kekuatan atau juga soal  kebesaran, kejayaan, kemakmuran dan  bahkan termasuk utk kepemimpinan yg sukses serta berdampak, hanya dapat tercipta atau diciptakan melalui KOLABORASI. Melalui kolaborasi, setiap komponen saling mengisi, saling melengkapi dan juga saling bergantung. Perbedaan  Suku,  Agama, Ras  atau Golongan adalah kekuatan yg dapat berkontribusi signifikan  kalau kita melihatnya dari perspektif seperti yg di uraikan diatas. 

Dan akhirnya, dapat disimpulkan disini bahwa, Kolaborasi adalah jalan tengah yg relevan dan kontekstual dengan situasi keberagaman di Papua dalam rangka mewujudkan atau meraih  Kejayaan Pemuda.

Salam,

BG

HUT Pekabaran Injil Harusnya Di Rayakan Meriah dan Berkesan di Tanah Papua.

Dan karena itu, menurut saya, dari seluruh hari paling bersejarah, penting dan berharga yang dan perlu dirayakan, hari PI harusnya lebih di hormati dan di rayakan secara meriah dan berkesan di seluruh pelosok tanah Papua daripada hari raya manapun di tanah Papua.
__________________
Sekedar Catatan untuk Refleksi || Jayapura 5 Februari 2022 – [Oleh : Benyamin Gurik - Wakil Ketua DPD KNPI Papua]
_________________
Tanpa 5 Februari 167 tahun yang lalu, Cerita perjalanan peradaban hidup bangsa Papua sebelum mengenal bangsa-bangsa lain ini pasti menjadi berbeda. Belum tentu kita menjadi bagian dari Indonesia,   belum tentu Belanda, belum tentu Australia  atau Amerika, dan belum tentu juga Papua Merdeka. Semua belum tentu pastinya. Satu yang pasti dan telah menjadi dasar sejarah peradaban bangsa Papua hingga kini adalah, satu setengah abad lebih 17 tahun lalu, kita telah mengenal Injil Kristus yang dimulai dari Mansinam. Dan karena itu, menurut saya, dari seluruh hari paling bersejarah, penting dan berharga yang  dan perlu dirayakan, hari PI harusnya lebih di hormati dan di rayakan secara meriah dan berkesan di seluruh pelosok tanah Papua daripada hari raya manapun di tanah Papua.

Peringatan 5 Februari setiap tahun harusnya dibuat sangat meriah dan berkesan. Kenapa? Harus MERIAH dibanding hari raya manapun di Tanah Papua karena tenpa kehadiran para misionaris  di Mansinam membawa Injil cerita tentang peradaban Papua tentu menjadi lain dan berbeda. kita belum tentu mengenal Kristus sebagai juruselamat dan kasihNya bagi umat manusia. Harus BERKESAN karena kita perlu mewariskan cerita sejarah dari waktu-ke waktu hingga ke anak cucu bahwa, tanah ini di temukan oleh Misionaris dan dimeteraikan dalam Injil. Dan karena injil ini, Tanah dan orang  Papua terkenal di penjuru Nusantara karena Toleransi beragama yang luar biasa. Toleransi adalah salah satu masalah besar yang masih di gumuli di Negara ini. Dan untuk bagian ini, Papua harus berdiri di garda terdengan beralas Panji Kristus untuk  menunjukan toleransi yang seharusnya dan sebenarnya seperti apa di bumi tanah nusantara Indonesia tercinta.

Karena Injil Kristus para misionaris pertama menginjakan kaki di tanah Papua. Karena Injil juga, mereka relakan diri dan siap menghadapi berbagai resiko yang mungkin terjadi, bahkan untuk kehilangan nyawa sekalipun. Dan sebagai bentuk penghargaan terhadap karya para Misionaris ini, Injil harus benar-benar jadi dasar pijakan setiap orang Papua. Terutama kita yang Nasrani, Injil harus jadi dasar  dalam  setiap aktivitas keseharian. Injil saja yang memungkinkan kita menjadi manusia beradab. Sa tra tau kalau yang temukan pulau ini pasukan tentara sekutu, pasukan Jepang dan atau pasukan Negara lainya. Mungkin tong semua jadi orang atheis atau komunis, mungkin semua terlatih sebagai pasukan militer kah apa? Hehe…. Itu mungkin dan tentu mungkin saja sih… hahah…  Tanpa Injil, kitong mungkin su baku hajar antar suku sampai habis kah apa. Injil kasih Kristus saja yg buat kita liat manusia dengan model apapun dari suku dan kepercayaan manapun sebagai sesama yang harus dikasihi.

Hanya karena injil, kita yang hampir 300an suku bangsa di tanah Papua bisa hidup damai berdampingan sesama orang Papua asli. Hanya karena Injil juga kita dapat menerima  saudara -saudara kita dari luar yang berbeda suku, bahasa etnis serta kepercayaan namun kini dapat hidup berdampingan dengan rukun damai.  Hanya karena Injil, setiap pemeluk kepercayaan yang lain dapat dengan mudah membangun rumah ibadah serta menjalankan ajaran agamanya tanpa harus minta ijin RT/RW seperti mereka diluar,  yang sudah mengenal peradaban ribuan tahun sebelum kita di Papua. Semua bisa terjadi demikian Hanya karena injil. Dan karena itu, cukup beralasan kedepan, HUT PI   dirayakan lebih Meriah dan Berkesan melebihi perayaan hari raya manapun di tanah Papua. 

Selamat HUT PI ke-167 Tanah Papua Tercinta.

Facebook : https://www.facebook.com/BENYAMIN.GURIK

Twiter : 

Boleh Tidak Uncen Terlibat Melakukan Kajian Evaluasi Pelaksanaan Otsus Papua, dan Kartu Merah Yang Salah Alamat. || Ini Tanggapan Mantan Ketua BEM UNCEN.

Ini respon saya secara pribadi sebagai  alumni dan juga sebagai mantan Ketua BEM UNCEN menanggapi Polemik atau pro kontra Boleh tidak Uncen berperan dalam melakukan kajian Evaluasi Pelaksanaan Otsus Papua serta catatan tanggapan saya soal aksi adik² mahasiswa kemarin yg memberikan kartu merah kepada Rektor Uncen. || (Oleh : Benyamin Gurik)


Lebih baik Uncen dgn para tenaga pendidiknya (Dosen)   yg lakukan Evaluasi OTSUS atau Kampus lain diluar Papua sana?  Ini adalah pertanyaan penting menurut saya yg harus kita renungkan sekarang dalam merespon  isu penolakan yg dilakukan oleh adik² mahasiswa.

Otsus adalah produk dari kebijakan. Dalam ilmu kebijakan, “Evaluasi kebijakan merupakan suatu proses untuk menilai seberapa jauh suatu kebijakan publik dapat “membuahkan hasil”, yaitu dengan membandingkan antara hasil yang diperoleh dengan tujuan dan/atau target kebijakan publik yang ditentukan”. Jadi evaluasi itu penting dan harus  utk mengukur  pelaksanaan produk kebijakan apakah sdh sesuai dgn tujuan dan cita-cita atau tidak.

Mau teriak otsus berhasil atau gagal anda harus punya data. Dan data itu harus hasil  evaluasi melalui sebuah kajian menggunakan metodologi ilmiah. Bukan opini pribadi  dijalan². Dunia akan akui data yg bersumber dari kajian melalui metodologi ilmiah. Bukan data dari opini pribadi kita. Dan untuk itu selanjutnya skrang kita mau yg buat kajian evaluasi  obyektif ttg otsus agar memperoleh data pelaksanaan Otsus  itu Uncen yg buat atau kampus lain diluar?

Kalau bukan Uncen, anda yakin mereka di luar yg buat bisa obyektif sesuai  dgn realitas yg kita hadapi? Atau saat mereka melakukan kajian anda bisa mengakses mereka untuk memberikan masukan atau presure agar materi apa yg harus dievaluasi itu seturut dengan keinginan kita.?

Adooo Jangan gegabah sdh.  Presure  ke Uncen tuh  supaya obyektif dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan siapapun yg mau memperpanjang kejahatan dan penderitaan di Papua. Bukan presure supaya...

Gubernur Papua Harus Segera Mengevaluasi Penyaluran Bantuan Sembako Kepada Masyarakat Terdampak Covid -19/Corona Virus Di Papua.

Pandemik ini di prediksi banyak pakar Epidemologi Indonesia masih akan panjang Sampai Oktober 2020|| Gubernur Papua Baiknya  Segera Mengevaluasi Pelaksanaan Penyaluran Bantuan Sembako Kepada Masyarakat Terdampak Covid -19/Corona Virus Di Papua Bersama Para Kepala Daerah dan Pihak Terkait lainya yang berkompeten di Papua. 

Organisasi Pengelola dan penyalur bantuan pemerintah provinsi Papua dalam rangka penanggulangan dampak akibat Pandemi Corona Virus/COVID -19 di Papua sebaiknya di evaluasi pelaksanaanya maupun para pihak yang melakukan penyaluran di Lapangan saat ini.  Hal ini penting dilakukan guna meninjau sejauh mana keberhasilan ataupun sejumlah kendala dilapangan  termasuk para pihak yang mengelola dan menyalurkan bantuan dimaksud agar dapat menjadi bahan masukan yang baik bagi efektifitas pelaksanaan penyaluran bantuan kedepan.

Seperti kita ketahui saat ini, bantuan Pemerintah Provinsi  maupun kabupaten/kota terdampak pandemic corona virus terlihat tumpang-tindih, banyak terjadi pendobolan dan ada Sebagian masyarakat terdampak yang sama sekali tidak tersentuh karena luput dari perhatian atau juga karena ketidakjelasan akan menjadi tanggungjawab siapa.

Pemerintah baik provinsi maupun kabupaten/kota se Papua yang terdampak pandemic corona sebaiknya duduk satu meja dan mengevaluasi pelaksanaan bantuan yang sudah disalurkan, mengidentifikasi tanggungjawab masing-masing secara jelas dan tuntas agar jangan ada masyarakat yang menjadi korban karena kelalaian pemerintah dalam melakukan mapping, pendataan  maupun pembagian tanggungjawab dimaksud.

Dari pengamatan kami dilapangan, kami mendorong  penyaluran bantuan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi sebaiknya dibawah satu Lembaga/badan  yang didalamnya perlu ada keterlibatan bukan saja pihak pemerintah namun juga dari kelompok akademisi, Tokoh masyarakat atau LSM dan di SK-kan oleh Gubernur Papua.

Kita semua tidak tau pandemic ini akan berakhir kapan di Papua. Untuk Indonesia saja, banyak pakar epidemologi memprediksi pandemic ini masih akan bertahan lama. Di Jawa Timur misalnya, sejumlah ahli epidemologi dari FK UNAIR telah merekomendasikan diberlakukanya PSBB berskala luas di seluruh daratan Pulau Jawa khususnya Jawa Timur. Itu artinya, pembatasan aktivitas berskala besar (PSBB) yang diberlakukan disana akan berdampak sampe ke Papua. Semua pusat produksi barang makan, minum pakai dan lain sebagainya di Papua yang bergantung dari Jawa akan ikut terganggu. Dan karenaya,  dalam pengurusan atau penanganan  terkait dampak pandemic  di masyarakat Papua  tidak bisa di urus terpisah-pisah seperti yang sedang dilakukan saat ini. Juga tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah atau beberapa  OPD semata.

Pemerintah memiliki tanggugjawab luas mengurus segala hal terkait Pendidikan, Kesehatan, ekonomi, infrastruktur serta sector-sektor lainya di Papua. Konsentrasi mengatasi pandemic ini harus melibatkan masyarakat luas seperti disebutkan diatas. Kepala-kepala OPD dan pejabat eselon baiknya berkonsentrasi jalankan tugas-tugas utama  mengejewantahkan visi-misi Gubernur-wakil Gubernur  Papua untuk mewujudkan Papua Bangkit Mandiri dan sejahtera yang berkeadilan Jilid II.

Sangat tidak elok menyaksikan para pimpinaan OPD di pemerintah Papua berlomba mengejar jatah anggaran untuk mengurus makan minum warga yang terdampak pandemic corona. Seperti disebutkan diatas tadi, akibat harus memenuhi target membelanjakan uang yang sudah dilobi, para pejabat eselon sampai  pimpinan OPD bukanya focus pada tugas-tugas pemerintahan tapi justeru rame-rame mau jadi pahlawan jalankan tugas diluar dari tupoksinya. Padahal kita semua ketahui tugas utama pejabat eselon atau pimpinan OPD itu melaksanakan tugas pemerintahan sesuai bidang masing-masing  dalam rangka melaksanakan visi-misi kepala daerah yang mengangkat/melantik mereka.

Tugas melayani masyarakat terdampak pandemic COVID-19 atau Corona Virus baiknya tidak diserahkan terpisah-pisah kepada pimpinan OPD di lingkungan Pemerintah Papua. Kami menyaksikan sendiri dilapangan banyak terjadi pendobelan penerima manfaat, data tidak akurat, dan banyak juga yg terdampak tapi tidak terlayani karena merka bingung harus berhubungan ke instansi mana. Disini kami garis bawahi perlu keterlibatan  semua stakeholder dalam menangani pandemic ini. Didalamnya perlu ada perwakilan masyarakat, akademisi, dan atau juga LSM dan di SK kan oleh Gubernur agar pelaksanaan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak  tepat sasaran, tidak tumpang tindih atau saling lempar tanggungjawab hingga mengakibatkan ada sebagian masyarakat tidak terurus di kemudian hari.

Dalam edaran mendagri jelas disebutkan perlu ada partisipasi masyarakat dalam penanganan pandemic corona. Tapi sampai hari ini yang kami lihat justeru monopoli pimpinan OPD dalam membelanjakan uang rakyat memborong bahan Mananan di Toko/supermarket atau grosir dan menyalurkan ke masyarakat seolah ini bantuan OPD tertentu padahal semua ini dari bantuan Provinsi. Bukan bantuan kepala OPD tertentu. 

Semoga para pihak yang berkompeten bisa melihat dan jika dimungkinkan dapat mengkaji masukan kami ini sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan pelayanan kepada masyarakat terdampak pandemik Corona Virus Di Papua.


Tuhan Memberkati.

 

Benyamin Gurik

(Aktivis Pemuda, Kini Terlibat Juga Sebagai Relawan Corona Papua di Jayapura)
-------------------------------------


Berikut Beberapa Link Berita yang Baiknya dibaca terkait masa pandemik Corona Di Indonesia sebagai referensi Tambahan;

  1. Ahli: Jangan Longgarkan PSBB, Jangan Mimpi Pandemi Berakhir Juni https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/13/110300123/ahli-jangan-longgarkan-psbb-jangan-mimpi-pandemi-berakhir-juni

  2. Kembali Mundur, Wabah Corona di Indonesia Diprediksi Berakhir 28 Oktober -https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5011553/kembali-mundur-wabah-corona-di-indonesia-diprediksi-berakhir-28-oktober


Hindari Kekacauan Akibat Pendemi Corona Virus, Baiknya Pemerintah Papua Pakai Cara ini!

Dalam mencari solusi melawan corona dan bagaimana menangani dampak yg timbul di Papua, kita butuh pakar/ahli  atau  akademisi dari multi disiplin ilmu murni dari kampus utk  membuat kajian kontekstual Papua agar dapat dijadikan pedoman pembuatan  kebijakan dan pengalokasian anggaran oleh pemerintah provinsi dan kabupaten kota se provinsi Papua, dalam  melawan wabah/Pendemi Corona Virus di Papua.  Cara pencegahan  yg akan lahir sebagai produk kebijakan tidak  boleh  lahir hanya  berdasarkan insting, mimpi kepala daerah atau segelintir org, atau  kopi paste model tempat lain diluar,   tapi harus lahir dari kajian para pakar di Papua seperti yg disebutkan diatas sesuai konteks sosial budaya dan dan perekonomian masyarakat di Papua.  Ini cara yg tepat agar Papua  bisa mampu bertahan atau bahkan menang lebih cepat hadapi wabah corona di Papua di tengah berbagai keterbatasan ketersediaan sumberdaya manusia Kesehatan,  alat kesehatan (APD) bagi tenaga medis serta fasilitas rumah sakit itu sendiri. Ini alasan saya bilang kajian ini harus lahir oleh akademisi di Papua Untuk menjadi dasar pembuatan/perencanaan kebijakan  publik dan keuangan.
Sampai  hari ini kita dapat melihat bersama, kebijakan pemerintah daerah di papua masih kacau, tidak terarah dan  dan tidak jelas sama sekali dalam menangani wabah corona virus dan dampak yg ditimbulkan bagi masyarakat.  Harus jujur diakui, pemerintah provinsi hingga kabupaten/kota di Papua belum punya peta/rute yg jelas untuk hadapi ancaman terburuk dan bagaimana kita  bertahan atau bahkan keluar dari ancaman terburuk dimaksud akibat Pendemi COVID 19 ini di Papua.

Masing-masing kepala daerah (kab./kota) mengambil jalan sendiri-sendiri. Provinsi sibuk cari sumber anggaran dan bagaimana menggunakannya sambil jg menyampaikan himbauan²  basi seperti  jaga jarak, cuci tangan, pake masker, tinggal di rumah yg sebenarnya semua su capek dan bosan mendengarnya. Dan tidak pernah, baik provinsi maupun kabupaten/kota memberikan kami gambaran arah kebijakan pasti soal dari dan akan kemana kita ketika menghadapi masa² sulit (jika ada), bagaimana kesiapan medis, bagaimana ketika  pasien menjadi 1000 org? Cukup kah alat dan tenaga medis kita ke depan utk menanganinya? belum lagi soal dampaknya di masyakarat. apa yg harus dilakukan kepada masyarakat yg terdampar, siapa mereka yg benar² terdampar,   bagaimana pendidikan di tengah wabah? Bagaimana menjaga dampak Ekonomi dan solusi kedepan? Dan banyak lagi soal yg musti di kaji dan di carikan solusinya. 
 
Kalo dari awal   kepala daerah kita cerdas, kita tidak kewalahan dan babingung  seperti sekarang hadapi corona di Papua. Kenapa  sa bilang kita  babingung? Yah sejak awal sa liat kita merasa sok tau dan mampu atasi berdasarkan pemahaman terbatas sendiri dampak  dari wabah sekelas Pendemi yg serangannya luar biasa dan mengguncang seluruh sektor kehidupan dan penghidupan dunia ini.

Su tidak cerdas,  baru bikin diri tau² (paling tau  dan paling mampu) sendiri  akibatnya kekacauan akan kita tuai seterusnya   nanti. 

Cara pencegahan dan penanganan kita di Papua terlalu beragam dan sangat rapuh, boros, tidak jelas dan tidak terarah serta sama sekali bersampak dalam jangka
Panjang cara tersebut tidak didapat  melalui sebuah pengkajian/pengujian menggunakan metodologi ilmiah. Dan untuk menggunakan metodologi ilmiah,  pakar dari multidisiplin ilmu yg Berasal dari kampus yg harus dilibatkan. Bukan pakar jadi-jadian atau siluman dari institusi dan atau lembaga manapun  yg sejak dahulu kita tahu punya banyak kepentingan lain dibelakang.  Kajian  harus menggunakan metodologi dan data yg jelas,  terukur dan bisa dipertanggungjawabkan atau dievaluasi pelaksanaannya. Termasuk  didalamnya Semua kebijakan pusat harus kontekstualisasi sesuai kebutuhan dan kondisi riil papua seperti di urai sedikit diatas.  

Cara menangani wabah sekelas Pendemi ini tidak  bisa  menggunakan hasil studi kebijakan  yg berasal dari luar Papua atau berdasarkan pemahaman sendiri yg jelas sangat terbatas itu. Kenapa demikian? Yah karena kebijakan apapun yg berasal dari kajian org di luar itu  Tidak kontekstual dengan berbagai kondisi/ faktor²  di  papua.  Faktor² tersebut  ini bukan saja soal distribusi uang tunai atau  bama, siapa yg berhak, tapi jg kajian soal sosial budaya papua berkaitan dengan kerawanan atau kerentanan penularan virus di Papua, kemana uang harus di belanjakan, kebijakan apa yg perlu diambil setelah  melihat keterbatasan alat atau tenaga  medis,  rumah sakit dll sebagainya, bagaimana membangun kesiapan masyarakat dalam menghadapi ancaman terburuk akibat Pendemi ini, Dan masih  banyak lagi.

Penting diingat, "Miliaran bahkan triliunan uang tak akan mampu biayai kebodohan siapapun anda," (BG). Terutama anda  yg kami serahi tanggungjawab  kelola dana milik rakyat di APBD selama 5 tahun sebagai kepala daerah. Jangan menyalahgunakan kepercayaan kami masyarakat kepada anda untuk mengurus kami mengelola uang rakyat (APBD), atau membuat kebijakan yg keliru  utk  menghadapi wabah pandemi ini.

Pesan saya sebagai aktivis pemuda  mewakili masyarakat sekali lagi kepada   gubernur provinsi Papua/dan bupati/walikota kab/kota se PAPUA dan seluruh pihak terkait agar  segera buka diri, Libatkan  Akademisi utk memberi masukan berupa kajian²  supaya bapak/ibu kepala daerah  tidak salah atau tidak tepat dlm   memproduksi/membuat perencanaan kebijakan dan dalam perencanaan mengalokasikan anggaran utk hadapi wabah Pendemi yg melanda dunia ini. 

Segera bangun kerja sama dengan kampus, libatkan para pakar kebijakan publik/pakar bidang lainya yg relevan  di perguruan tinggi² yg ada di UNCEN atau kampus lainya utk  mengkaji secara mendalam  menggunakan metodologi keilmuan  berbagai kemungkinan, peluang, tantangan dan kiat² yg perlu dilakukan agar kita bisa mampu bertahan atau bahkan sukses   hadapi wabah ini seperti yg saya sebutkan diatas. Kemudian ada semacam langkah² yg di siapkan lewat kajian itu jg agar bagaimana   kita mampu bangkit dari kemungkinan krisis paskah wabah ini. 

Sekali lagi, jangan bikin diri paling tau dan bisa atasi masalah ini sendiri. Yg lulus cumlaude  dari kampus  itu sedang mengajar di kampus² jadi kerjasama dengan dorang penting supaya apapun  kebijakan itu punya kualitas  secara  akademik, terukur dapat diperbaharui maupun di pertanggungjawabkan . Terutama kerja sama dengan pakar di bidang kebijakan publik,  ekonomi, sosiologi dan antropologi, hukum, kedokteran, epidemiologi, statistik atau matematika  atau bidang lainya yg relevan untuk hadapi wabah ini.

Melibatkan para pakar (akademisi) dalam perumusan  atau perencanaan kebijakan Dan anggaran adalah cara cerdas para kepala daerah menutup kemungkinan pemborosan yg tudak perlu, merawat dan memberi ruang yg cukup bagi tenaga medis dan rumah sakit rawat inap yg terbatas agar bekerja maksimal, pendistribusian bantuan yg tepat sasaran, penyediaan kebutuhan yg benar² meyelesaikan masalah. 

Tanpa itu, (mohon maaf) apapun cara dan uang yg di pakai tentu tidak akan cukup dan justeru kurang serta tidak  memiliki dampak yg signifikan bagi penyelesaian masalah ini maupun pemilihan situasi.

Pesan terakhir yg tak usah diperdebatkan , Tidak ada uang yg lebih besar yg mampu membiayai kebijakan yg salah akibat dari kebodohan kita, jadi jangan lakukan kesalahan terlalu besar  dalam membuat kebijakan atau mengalokasikan anggaran untuk tujuan menghadapi wabah Pendemi covid 19  ini.

Video gubernur jawa barat yg viral di sosial media  ini bisa dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kebutuhan Papua khusus dalam hal utk  penanganan bantuan sosial. Bisa tonton videonya dgn klik link ini; 👉https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3215789891773280&id=100000269016645

Catatan;
Ini pikiran pribadi saya dalam menilai pola penanganan yg dilakukan oleh seluruh kepala daerah di Papua. Semoga  ada faedahnya. 🙏🙏

SURAT TERBUKA MENGHADAPI BAHAYA VIRUS CORONA (COVID 19) DI TANAH PAPUA

KEPADA YTH
1. BAPAK GUBERNUR TANAH PAPUA
2. KETUA MRP TANAH PAPUA
3. KETUA DPR  TANAH PAPUA
4. PANGLIMA DAN KAPOLDA TANAH PAPUA
5. FORKOPIMDA PROVINSI HINGGA KABUPATEN SE-TANAH PAPUA
6. KEPALA DISTRIK SETANAH PAPUA
7. KEPALA KAMPUNG DAN LURAH SETANAH PAPUA
8  Tokoh Adat, Agama, perempuan, pemuda dan para kepala suku SETANAH Papua.

Saya Benyamin Gurik, Aktivis pemuda di Jayapura meminta perhatian bapak/ibu tersebut diatas untuk mempertimbangkan segera cara strategis,  komprehensif dengan memperhatikan karakteristik budaya yg bisa memicu  penyebaran virus corona, juga dengan memperhatikan  ketersediaan fasilitas pencegahan dan penanganan di Papua yg jelas jauh dari angka memenuhi standar minimum. saya usulkan bahan pertimbangan berikut ini untuk segera di perhatikan.

PENANGANAN VIRUS CORONA DI INDONESIA SEJAK TERKONFIRMASI DARI SATU ORANG SAMPAI HARI INI SUDAH MELEWATI ANGKA 30an. Artinya bahwa virus ini di indoenesia setiap hari bukan berkurang tapi selalu bertambah. begitu pula angka kematian karena virus ini tidak ada yg bisa  menjamin, termasuk presiden sekalipun bahwa akan berkurang atau kasus kemarin di bali itu yg terakhir. 

lihat saja negara² maju sekelas Italy, Iran, bahkan negara² dengan fasilitas kesehatan terbaik di dunia saja kewalahan menghadapi bahaya virus satu ini. sementara kita masih eforia dengan menggampangkan perkuat imunitas tubuh? cuci tangan disini dan disana? kira² pemerintah tahu ketahanan tubuh OAP saat ini kah? kira² ada fasilitas cici tangan diseluruh sudut kota kah?

Kita papua ini daerah tropis. jalan 5 meter su mandi keringat. lalu  kalo su keringat, karena tangan tidak boleh mengusap wajah terus  mo pake kaki seka keringat di mata dan  wajah kah? 

Tolong.... berfikir wajar, sadar dan kontekstual bapa/ibu sekalian. ini Papua. 

saya dengan sangat rendah hati meminta pemerintah Papua agar segera menyurat presiden untuk menunda PON tahun ini di Papua. #PON 20/2020 harus di Undur sampai Virus corona betul² habis atau ada antivirus yg dapat mengobati virus satu ini di Papua.

#Jangan anggap remeh atau menggampangkan penanganan virus ini bapak/ibu sekalian yg mulia...!!!*

Saya minta kita realistis saja. Bahwa 1 orang Papua terinfeksi hari ini, tingkat kerawanan penularan terlalu tinggi. Budaya org Papua harus salaman dari satu org ke orang lain ini bisa menyebabkan sehari saja kita bisa tularkan 50-100 orang.

contoh saja, kalo 1 orang pegang tangan dengan 100 orang berikut, atau jalan batuk sembarang kemudian menularkan  ke yg lain lagi, nanti rumah sakit mana di Papua yg bisa tampung seluruh pasien yg disebabkan oleh ulah  1 orang yg jalan bagi virus ke 100 orang lain ini. belum lagi 100 orang ini pergi salaman  orang baru lain lagi. 

siapa yg jamin orang Papua punya daya tahan tubuh kuat. jangan berasumsi tanpa data medis soal daya tahan tubuh orang Papua bisa menghadapi bahaya virus satu ini. saya tidak yakin itu!

Untuk itu, Tanpa mengurangi rasa hormat saya minta kepada bapak/ibu pembuat kebijakan di Papua yg saya sebutkan diatas agar;

1.  #Segera buat rancangan peraturan atau apapun namanya untuk persiapan  melockdown Papua sewaktu² jika wabah ini semakin meluas di luar.*

2. #Minta Presiden keluarkan surat penundaan  PON  sampai indonesia benar² bersih dari virus satu ini.*.

3. #Kerahkan seluruh kekuatan dan fasilitas  keuangan daerah dan  tenaga ahli untuk membangun fasilitas dengan daya tampung memadai dengan kualifikasi sesuai standar WHO untuk menjaga 3 juta manusia Papua yg hidup di Papua.*

4. #Siapkan rancangan peraturan pembatasan jam belajar, ibdah di gereja, Masjid, tempat hiburan malam, juga  hentikan ivent²  yg menghimpun org dalam jumlah banyak di suatu  ruang atau tempat.*

5. #Sa minta pertimbangkan  himbauan presiden dan perangkat kementerian di pusat yg berbicara menggampangkan pencegahan virus ini. menurut saya kita di Papua berbeda dengan jakarta. jumlah ketersediaan alat dan tenaga medis serta fasilitas kesehatan di Papua ini sangat² terbatas untuk mengisolasi pasien, atau untuk mengobati pasien. beda dengan Jakarta atau jawa  yg jumlah rumah rumah sakit lebih banyak dari pasien. wajar presiden atau pejabat kementrian berbicara seolah mudah mengatasi masalah ini karena dasar pernyataannya jelas dengan melihat jumlah fasilitas dan tenaga kesehatan  disana yg cukup memadai* 

6. #angka penderita TB paru di Papua cukup tinggi. virus ini sampe di honai  satu di gunung, satu kampung, bahkan kabupaten bisa punah. jangan main². tidak ada rumah sakit di gunung²  dan daerah terisolir di pedalaman Papua.*

7. #Papua ini daerah termiskin dengan data  BPS beberapa tahun terkahir menunjukan angka  kematian ibu dan anak masih yg tertinggi di Indonesia.  jangan karena virus satu ini dan karena cara kita menggampangkan penanganan virus ini kita musnahkan 3 juta manusia pemilik tanah ini dengan Cepat.*

#Tolong 🙏bagikan pesan saya ini  ke bapak/ibu pembuat kebijakan dari gubernur sampe kepala kampung di Papua  agar mempertimbangkan masukan ini.🙏🙏🙏🙏

Jayapura, 13 Maret 2020

Hormat saya,

Benyamin Gurik, (aktivis pemuda)

-----
Berikut beberapa link  saya bagikan beberapa sebagai dasar argumentasi dan juga masukan untuk dijadikan  sebagai bahan pertimbangan bapak/ibu pembuat kebijakan di Papua. link² berita ini  memuat  respon negara² atau daerah di  dunia serta indonesia dalam menangani dan mencegah penyebaran virus corona.*👇👇👇👇

1. Gara-gara Virus Corona, Pentas Olahraga di Seluruh Dunia Lumpuh Seketika- 
https://m.bola.net/bolatainment/gara-gara-virus-corona-pentas-olahraga-di-seluruh-dunia-lumpuh-seketika-6e6878.html

2. Belajar Dari Sars,  ini cara Taiwan kontrol penyebaran Corona
https://tekno.tempo.co/read/1317228/belajar-dari-sars-ini-cara-taiwan-kontrol-penyebaran-virus-corona

3. Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Jusuf Kalla, menilai penguncian diri suatu negara atau lockdown menjadi upaya efektif untuk meminimalkan penyebaran virus corona atau Covid-19. Pemerintah Tiongkok menerapkan lockdown ketika tersebar wabah virus corona di Wuhan, provinsi Hubei. https://katadata.co.id/berita/2020/03/12/jk-sebut-sistem-lockdown-dapat-diterapkan-di-indonesia-atasi-corona

4. Cemas Pendemi  Covid 19, Trump Batasi Masuknya Pelancong Dari Eropa* https://katadata.co.id/berita/2020/03/12/cemas-pandemi-covid-19-trump-batasi-masuknya-pelancong-dari-eropa

5. Meski jumlah kasus Virus Corona di Indonesia tidak separah Italia, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai, kemungkinan lockdown cukup besar terjadi di Tanah Air. "Kemungkinan lockdown besar untuk Indonesia karena protokolnya masih baru dan belum semua daerah paham," ujar Agus kepada Liputan6.com*  https://www.liputan6.com/global/read/4198979/headline-italia-lockdown-akibat-virus-corona-covid-19-indonesia-tak-akan-bernasib-sama

6. JK nilai Lockdown Efektif Cegah Penyebaran Corona Jika Belajar dari Huebei* https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/03/12/13580671/jk-nilai-lockdown-efektif-cegah-penyebaran-corona-jika-belajar-dari-hubei

7. Sampel lendir tenggorokan pasien 25 diambil dan dikirim untuk uji laboratorium di Litbangkes RI Jakarta. Hingga WNA itu meninggal, RSUP Sanglah belum menerima hasil laboratorium itu. "Khusus yang meninggal ini kami belum tahu hasil labnya," kata Made Indra. Setelah dikonfirmasi, rupanya pasien 25 itu diketahui positif Covid-19.* https://regional.kompas.com/read/2020/03/12/05200001/duduk-perkara-pasien-25-virus-corona-meninggal-di-bali-wna-perempuan-pemprov?page=2

8. Periode inkubasi yang dilaporkan berkaitan dengan gejala dari virus corona, bukan penularannya. Para ahli mengatakan, orang mungkin menyebarkan virus sebelum gejala atau tidak merasakan sakit sama sekali.  Baik CDC maupun WHO melaporkan infeksi virus corona dapat tidak menunjukkan gejala. CDC mengatakan bahwa peran penularan pra-gejala tidak diketahui.* 
https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/11/143000565/kajian-terbaru-virus-corona-periode-inkubasi-5-hingga-12-hari?page=2

9. Negara ini menghadapi beberapa masalah dalam penangan kasus. Di antaranya termasuk kekurangan sanitizer dan utamanya peralatan pencegahan untuk para staf medis di seluruh negeri.*
https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/11/081200965/diduga-khawatir-virus-corona-27-orang-tewas-akibat-keracunan-alkohol-di?page=2

10  LEBIH BAIK MENCEGAH DARIPADA MENGOBATI, SEMOGA URAIAN SAYA DENGAN SEJUMLAH DATA² DARI MEDIA² TERPERCAYA INI BISA MENGGUGAH HATI BAPAK IBU UNTUK MENGAMBIL LANGKAH BIJAK,  TAKTIS DAN KOMPREHENSIF SEGERA UNTUK MELINDUNGI PAPUA YG JUMLAH PENDUDUKNYA SANGAT SEDIKIT DI INDONESIA INI.*

Jangan tunggu sampai virus ini menjamur baru kita baku cakar sana sini cari kuburan karena tampat semua full...

SALAM HORMAT SAYA BUAT BAPA² PENGAMBIL KEBIJAKAN DI PAPUA. TUHAN BERKATI BAPAK IBU SEKALIAN....🙏🙏🙏

(Jayapura, 14/03/2020)

Benyamin Gurik, Aktivis Pemuda

Gawatt ...! Corona sudah di Papua, Ini Surat Terbuka Terkait Rekomendasi Kebijakan Yang Harus Di Prioritaskan Untuk Keselamatan Pahlawan Kesehatan Papua Melawan Corona Virus.

"S U R A T    T E R B U K A"

Yth. Bapak/Gubernur/Bupati/Walikota
 Se-Tanah Papua

(Mohon berikan waktu sedikit membaca curhatan  kami ini, sebelum bapak/Ibu mengambil langkah kebijakan dan anggaran utk menangani virus Corona/Covid-19 di daerah masing². Terutama terkait dengan kemampuan penanganan Wabah Virus ini, Ketersediaan Tenaga Medis dan APD-nya, juga Alat Tes dan Obat²an, Termasuk Fasilitas Kesehatan Untuk Layanan Pasien Mengantisipasi Kemungkinan Terburuk Terjadi di Papua).

                        •••••••••••●☆●•••••••••
3 Bulan lalu kita dengar Virus baru  yg dikenal dgn nama *Corona* di Wuhan China. Indonesia awalnya dingin menghadapi wabah virus ini dan kini justeru kewalahan menghadapinya. Kenapa? Karena sikap dingin, malas tau dan tidak sigap pemerintah sendiri. Dampaknya kita lihat kekurangan  APD,  pasien di pimpong, rumah sakit tidak siap, fasilitas tes dll tidak  ada dan sebagainya.

Sekarang di Papua juga sama.  2 Maret lalu kita dengar Virus su ada di Jakarta tapi kita masih berdebat soal hal² remeh temeh. Padahal kondisi fasilitas/peralatan kesehatan kita dan tenaga medis adalah yg paling  rendah di Indonesia. Juga kota tujuan paling banyak di kunjungi oleh orang dari Papua salah satunya jakarta. Tapi kita masih bergerak lambat.

Skrg...
Virus su ada di tanah kita, provinsi kita, kota/kabupaten kita bahkan rumah kita masing². Kita tidak tahu siapa saja yg sudah terpapar.
Yang parah dan sudah di tes kemarin  baru hitungan jari. Yg sudah terpapar dan menularkan diluar sana  belum terdeteksi  dan jumlahnya pasti sudah melewati angka ratusan. Bahkan mungkin ribuan. Ditambah sosio kultur kita yg suka pegang tangan dari keluar pintu rumah sampe masuk pintu rumah setiap hari, jumlah orang yg sudah terpapar bukan tidak mungkin semakin luas dan tidak terkendali. 

Disini saya hanya mau tanya; "Seberapa siap tenaga medis, peralatan, fasilitas yg bisa menunjang kalo besok ada 100 orang per hari datang dalam kondisi sekarat karena  virus ini?  
Ini baru 100an, kalo ribuan? 
Trus 13 rumah sakit cukup? 
Alat medis dan tenaga kesehatan cukup dan mampu?
Bapak/Ibu kepala daerah pasti tahu kekurangan ini karena selama ini bapak/ibu yg kami serahi kewenangan membuat kebijakan anggaran pembangunan di PAPUA.

Belum lagi pasien karena keluhan malaria, patah tulang, diabetes, jantung, paru² dll sebagainya. Sa takut kiamat datang lebih awal menjemput kita semua karena kelalaian kita semua bapak/bapak sekalian. Kemungkinan anak mudah² yg akan tersisa,  itupun jika  daya tahan tubuh kuat. Tapi di tengah situasi  semua anak mudah menyaksikan sanak saudaranya mati dimana², Daya tahan tubuh yg  berpengaruh karena emosi pasti drop. Kalo org meninggal sana sini, anak mudah yg daya tahan tubuh kuat sedih berlarut, itu sdh membuka ruang utk  virus dapat membunuhnya segera. Benar² menakutkan jika benar² terjadi. Untuk itu mohon jadi bahan pertimbangan penting dalam penyusunan kebijakan anggaran dalam melawan wabah virus yg cukup mematikan ini.

Sekarang terlepas dari masalah diatas ini, 

Kami minta perhatian khusus buat tenaga medis yg ada di garis depan dan sudah mulai bertugas minggu lalu  menangani pasien dari PDP  corona nih.  Saya minta maaf, sumber info ini dari sosial media kalo tenaga medis kita kewalahan karena APD kurang, bahkan ada yg menyampaikan sdh habis. Tapi Karena panggilan profesi dan  tanggungjawab harus merawat pasien dgn baik, beberapa tenaga medis pake APD  diluar dari standar yg dikeluarkan atau diwajibkan oleh WHO untuk merawat pasien Corona. (Kebenaran info ini bapak ibu cek langsung ke kepala rumah sakit didaerah dimana bapak/ibu pimpin. Jangan tanya kepala dinas).

Soal kami tidak menyebut daerah mana dan rumah sakit mana, sa pikir semua rumah sakit sama. Ini virus baru, standar penanganan berbeda jelas ini akan jadi masalah baru bagi selurub rumah sakit pemerintah maupun swasta. Satu lagi bagi kami, Situasi kebijakan sosial distancing membuat kami patuhi degan baik sehingga kami tidak bisa keluar  mengecek info ini secara detail.  Tapi bapak/ibu jelas bisa.  

"Bagaimana caranya?"

Tanpa mengurangi rasa hormat, ambil telpon skrg, hubungi pihak teknis terkait yg bertanggungjawab langsung terhadap masalah ini jika bapak/Ibu peduli dgn kesehatan masyarakat kita dan juga terutama tenaga medis kita yg berada di garis depan melawan musuh yg tidak bisa dilihat dgn mata telanjang ini.

Sekali lagi..., "ambil telpon skrg dan telpon langsung!" Kami masyarakat bawah  tidak bisa pergi berobat di Jakarta, apalagi Luar negeri. Anda kami angkat untuk bangun fasilitas  kesehatan terbaik tidak peduli bagaimana caranya. Juga lengkapi fasilitas kesehatan dengan peralatan terbaik dan berkualitas untuk menjamin kesehatan kami. Termasuk didalamnya  tenaga medis. 

Jangan pake alasan tidak ada uang, mekanisme anggaran, dan alasan² birokratis yg ruwet itu. Dalam kondisi kejadian luar biasa begini, kebijakan harus  diambil skrg. Kalo bapak/ibu bingung cari sumber anggaran, bagaimana dengan kita masyarakat biasa...?

Kita justeru sangat   bingung, bagaimana mungkin dari Otsus lahir kita selalu bilang kekurangan tenaga medis/guru itu sampai di ujung Otsus skrg ini kita masih bergumul  dgn masalah yang sama?  Ini tidak benar.  Sungguh-Sungguh tidak benar...! Dalam kondisi normal kita sudah kekurangan tenaga medis baik dokter/perawat, juga peralatan dan obat²an, apalagi  dalam kondisi kejadian wabah luar biasa begini.? kita bukanya kekurangan semua  tapi akan berhadapan  dengan situasi  benar² sulit yg luar biasa.

Tenaga medis yg sangat sedikit di Papua ini harapan terakhir   kita. APD itu alat untuk memastikan mereka dapat bertahan hidup terhindar dari wabah virus ini dan masih bisa menolong kita yang lain lagi. Peralatan medis,alat tes  dan obat²an itu senjata pamungkas mereka untuk menolong kita. Penuhi kebutuhan  itu segera....! Ini darurat.

Sebelum semuanya terlanjur, kami minta sekali lagi tolong perhatikan APD tenaga medis yg sa sebut diatas segera. Nyawa mereka benar² akan di dipertaruhkan luar biasa menghadapi virus ini. Jangan ada tenaga medis yg mati karena kelalaian dan kesalahan kita tidak lengkapi mereka dengan peralatan yg memadai sesuai standar WHO. Juga kt harus jaga  keluarga mereka masing².  Kita akan sangat berdosa ketika karena kelalaian kita menyediakan fasilitas pelindung diri bagi pahlawan kesehatan kita (tenaga medis) dengan peralatan kerja lengkap, mereka yg justeru jadi korban. Ini keterlaluan kalo terjadi.

Dan terakhir sa harap bapak/ibu kepala daerah yth. 
Setelah membaca tulisan keluhan kami masyarakat kecil ini,  bapak/ibu jelas memiliki kapasitas untuk mengadakan anggaran belanja untuk tujuan diatas, mohon yang terakhir kalinya sebelum kami akhiri curahan hati kami ini, "Ambil telpon dan hubungi nomor kontak yg bertanggungjawab di lapangan untuk mengecek ketersediaan APD bagi tenaga medis, peralatannya, obat²nanya secara detail sebelum membuat kebijakan anggaran melawan corona di Papua.

Yang terakhir saya sampaikan permohonan maaf jika cara penyampaian curhatan masyarakat kecil ini menyinggung perasaan bapak/ibu kepala daerah  di tanah Papua. Termasuk pemilihan judul yg mungkin membuat kaget. Sebenarnya saya menulis  judul seperti ini supaya membuat rasa penasaran saja. Termasuk tidak menyebut kota mana yg kurang atau bermasalah agar setiap daerah meningkatkan kewaspadaan saja. 

Dari hati yg dalam, Kami tidak memusuhi bapak/ibu sekalian, saya harus jujur, mungkin saya yg tidak memiliki  kemampuan menyampaikan masalah ini secara tertulis dengan pemilihan kata yg santun, terstruktur dan sistematis sehingga  tulisan kami mungkin terlihat kasar dan tidak teratur. Semoga bisa di mengerti. 

Demikian untuk diperhatikan,  dan semoga jadi bahan masukan yg baik dalam penyusunan kebijakan anggaran  menghadapi  bahaya penyebaran virus Corona di Papua.

TUHAN MEMBERKATI BAPAK/IBU GUBERNUR DAN PARA BUPATI WALIKOTA SE TANAH PAPUA.

Jayapura, 24 Maret 2020

Salam hormat,

Benyamin Gurik
(Saya Bukan Pengamat/Pakar, saya Hanya Akrivis Pemuda  pemerhati masalah² sosial Masyarakat di Papua)

Diberkati dan Memberkati Lewat Pertemuan Tidak Sengaja Yang Berkesan Diawal Tahun 2020

“Saya anak pendeta Bimbert Gurik yang sekarang menetap di Jayapura bapa.” Ia sedikit gugup menerima uluran tangan saya untuk menerima berkat seadanya yang saya berikan. Sambil menatap saya dengan mata berkaca-kaca ia mengatakan dengan nada  tersendat menahan sesak, “Terimakasih  anak,  kamu dulu kecil-kecil baru keluar dari Kampung jadi saya tidak ingat kamu punya muka sama sekali oo…,  ‘Sekarang kamu sudah besar semua dan Tuhan antar jadi saluran berkat buat saya siang ini,  sahutNya.”

Pertemuan tidak sengaja dengan Bapa Abraham dari Kampung Zaman
Merauke, 02 Januari 2020.  Pukul 14.00 Siang tadi, Tidak sengaja saya bersua dengan seorang yang dari penampilanya terlihat sudah berusia setengah abad. Ia penjual mangga yg menjajakan mangganya di depan parkiran salah satu Bank yang cukup ramai di Merauke. Dari mobil ke mobil yang hendak parkir atau akan keluar parkiran, ia menjajakan mangganya kesana kemari sambil berharap ada org baik hati yang iba dan mau membeli mangga jualannya yg ia tenteng di tangannya didalam kantong kresek. Saya yang baru hendak parkir ditempat ini berfikir dia akan datang menawarkan mangganya juga ke saya namun ternyata tidak. Dia berbalik membelakangi mobil saya dan berjalan sambil menenteng kantong kresek hitam berisi mangga didalamnya, ia pergi menjauh dari mobil yg sedang saya parkir. 

Saya yang memang terbiasa tidak tahan ketika melihat org Papua asli seperti ini. Apalagi dihadapan saya ini org tua berusia lanjut yg menginjak rasa malu dan berdiri entah mungkin sudah dari pagi dengan tujuan bukan untuk meminta-minta atau melakukan pekerjaan yg tidak halal, Ia berdiri di lapangan parkiran mobil di terik matahari pagi hingga siang yg menyengat dan  melakukan pekerjaan bermartabat dan terhormat yakni menjual buah Mangga yang ia ambil dari tempatnya sendiri. 

Karena dia sudah pergi kembali menjajakan mangganya di seberang dan membelakangi mobil saya. Selanjutnya  saya membunyikan klakson dua  kali berturut-turut sambil membenarkan mobil di tempat parkiran untuk menarik perhatianya.
Saya sangaja membunyikan klakson untuk menarik perhatinya agar saya dapat melihat apa isi kantong yang beliau pegang dan jajakan di siang bolong yg menyengat ini. Ia berpaling namun sedikit mengabaikan sinyal yang saya berikan, sekali lagi saya membunyikan klakson ke tiga dengan sedikit keras untuk menarik perhatianya.  Dan baru kali ini,  akhirnya dia mau berpaling dengan  setengah berbalik badan mencari-cari dari mana asal dan untuk tujuan apa bunyi klakson itu ditujukan. Saya yg sudah tidak tahan dan melihat org tua ini, langsung menurunkan kaca mobil sambil menjulurkan tangan keluar kaca dan memberi kode dengan tangan memanggil org tua yg sedang berputar² dari mobil ke mobil, dari satu org ke org lain untuk menjajakan jualannya.

Ia menatap penuh harap kepada saya sambil cepat menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan bahwa ia yang memang saya panggil. Dengan penuh harap ia menghampiri  saya dengan raut wajah seolah sedang memohon dan berharap saya adalah orang yang dapat memenuhi kebutuhanya mendapatkan uang dengan membeli mangga yg ia jual sedari pagi tadi. 

Ketika dia telah berdiri disamping mobil, saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sedikit untuk mengetahui siapa dia, sedang apa disini. Berikut percakapan kami; Saya ; "Bapa jual apa?" dengan wajah penuh harap ia menatap saya sambil menyahut; "saya bawah mangga anak!" Sambil meminta kantong kresek untuk mengecek mangga didalam kantong kresek hitam yg ia pegang, saya bertanya lagi, "bapa tinggal dimanakah? "Kampung baru anak,” jawabnya dengan nada merendah.  " Bapa dari Yakhai kah?" (Yakhai nama suku dari daerah Mapi) saya bertanya untuk mengetahui asal sukunya. “Tidak anak! ’saya dari Pantai Kasuari, Kampung Zaman lanjutnya!” 

Kali ini saya langsung terpukul. Ternyata orang tua yang saya temui ini berasal dari salah satu kampong di di Distrik Pantai Kasuari, tempat dimana saya pernah menghabiskan masa kanak-kanak sampai SMP dan telah saya tinggalkan hamper 20 tahun lebih. Sekejap itu pula, semua kenangan saya tentang masa kanak-kanak semua kembali. Saya mencoba mengingat-ingat nama orang di kampung  yang baru saya dengar. Dengan sedikit penasaran, saya mencoba menanyakan beberapa nama yang muncul di ingatan saya sekejap  tentang orang-orang di kampung dari mana ia berasal. “Bapak kenal kk Simson yang kawin orang Wamena kah?” “Oh iya, saya kenal tuh, sahutnya!” saya menanyakan beberapa nama yang sempat saya ingat dan dia menyebut semua dengan benar. 

Terakhir saya bertanya lagi, “Bapa kenal Pdt. Bimbert Gurik,” Tanya saya dengan sedikit penasaran, “saya kenal itu, sahutnya’  ‘Bapa pendeta dia dulu di Kaipom tapi kemudian pindah ke Kamur terus sekarang sudah pindah ke Boven Digoel saya dengar,’ Lanjutnya.”  Saya tidak melanjutkan percakapan soal siapa dia dan tentang ingatan saya akan masa kanak-kanak disana. Kali ini saya bertanya berapa harga mangga yang ia jajakan ini, sambil menunjukan mangga yang sudah saya periksa didalam kantong kresek yang ia bawa. “Empat Puluh ribu anak, jawabnya.” 

Saya  mengambil dompet disamping saya dan mengeluarkan uang tersisa didompet tersebut dan menyerahkan kepadanya sambil mengatakan, “Saya anak pendeta Bimbert Gurik yang sekarang menetap di Jayapura bapa.” Ia dengan gugup menerima uluran tangan saya untuk menerima uang sambil menatap saya dengan berkaca-kaca dengan mengatakan dengan sedikit tersendat, “terimakasih  anak,  kamu dulu kecil-kecil baru keluar dari sana jadi saya tidak ingat kamu punya muka sama sekali oo…,’  ‘Sekarang kamu sudah besar semua dan Tuhan antar jadi saluran berkat buat saya siang ini,  sahutnya.” Kali ini saya yang ikut larut dalam kesedihan mengenang masa kanak-kanak dulu dan bagaimana mereka memperlakukan orang tua kami ketika masih berada disana selama kurun waktu 1960-an-hingga awal 2000an.  Sebelum pergi dia secara berulang memberkati saya dengan ucapan berkat dan kemudian ia menghilang diantaraa mobil yang berjejer di pelataran parkiran itu.

Setelah dia pergi, kini saya yang terduduk sedih sambil menahan sesak mengingat betapa waktu ini cepat berlalu dan kadang kita tidak dapat menduga bisa saling memberkati diwaktu yang berbeda dan dengan cara yang berbeda.  Hufffttt…. Selamat jalan bapa, "Kami hanya orang kaya yang belum sejahtera! 



Kado Natal Dari Mama & Bapa Yang Menyesakan Dada

Kado Dari Mama & BAPA Di Pinggiran Tapal Batas Sota Merauke - PNG || Sebuah Pelajaran Tentang Kesederahanaan, Komitmen dan Kesetiaan pada Panggilan Pelayanan Hingga Melewati setengah Abad Perjalanan Kehidupan Di Dunia. (Sota/25/12/2019)


Terimakasih untuk kado natal hari ini yang sangat cantik dan sangat indah mama. Sebuah nenas segar yang engkau petik langsung dari tangkainya dan antar ketika saya akan kembali ke kota merauke. Rasa hancur terharu seketika namun saya harus menahan sesak itu hingga di kamar penginapan sini, dan saya bisa melepaskan semuanya sambil menulis ini.

Disini, ditempat kalian berada memang  tidak ada yang istimewah. Hanya ternak, hasil kebun dan anak-anak cucu kalian yang kalian peliahara dengan cinta. Dan saya tahu nenas itu juga bukan apa-apa mama. Saya hanya terharu dan  sesak  ketika engkau sedikit bingung saat saya berpamitan dan mau kembali kekota. Engkau menyuruhku bersabar, dan saya pun menunggu. ketika engkau kembali dengan sebuah nenas disitu saya terpukul. saya sedikit terharu melihat engkau membawakan buah ini.

Saya tahu di moment ini hanya ini yang bisa engkau bawakan dan berikan buat lelaki bungsumu ini yang jarang bersamamu saat ini. tidak ada hidangan makan istimewah, kue-kue bersama minuman-minuman dingin bersoda atau lainya ditempatmu dibelantara hutan dekat tapal batas Merauke Papua - PNG. Dan mungkin ini buah nenas terakhir yang......

Pemberitahuan Resmi Panitia Kongres Perdana Pembentukan Organisasi Alumni UNCEN tentang Kepastian Pelaksanaan Kongres Perdana Alumni Uncen Tahun 2019.

Bapak/ibu/sdr/I Alumni UNCEN yang terkasih,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua....!
Ijinkan kami Panitia Penyelenggara Kegiatan Seminar dan Kongres Perdana menyampaikan beberapa pokok pemikiran terkait dengan polemik kepastian pelaksanaan kegiatan Kongres dimakasud diatas sebagai berikut;

18 TAHUN OTSUS PAPUA, SIAPA, KAPAN dan DIMANA KITA AKAN MENCIPTAKAN SDM PAPUA YANG UNGGUL


Refleksi POSISI SEMINAR NASIONAL DALAM KONGRES PERDANA ALUMNI UNCEN 2019. || Jayapura/14/12/2019

Otsus (Otonomi Khusus) sebentar lagi mau berakhir, tong masih bergumul atau tepatnya lagi belum berhasil benahi lembaga pendidikan yang maju, berkualitas dan didalamnya  memiliki tenaga pendidik (dosen) yg minimal berpendidikan S-3, atau masalah lagi tentang tenaga dokter spesialis yg mencukupi kebutuhan pelayanan kesahatan di Papua atau lain lagi menghadirkan laboratorium-laboratorium berstandar terbaik  dan lain-lain  sebagainya. Melihat situasi ini, Pertanyaan penting yg perlu kita refleksikan adalah KAPAN, DIMANA dan SIAPA yg harus memulai untuk berfikir dan mengurus semua masalah itu...?

KAPAN....???? Kapan kita mulai berfikir dan bertindak untuk mengurus masalah yg sa sebut diatas? Kapan kita menciptakan tenaga pendidik berkualitas, kapan tong bangun laboratorium berstandar nasional atau bahkan Internasional? Kapan tong mau adakan/lahirkan dokter-dokter umum dan spesialis yg memadai untuk memenuhi kebutuhan kesehatan di Papua? Dari pertanyaan² ini saya ingin membawa kita pada sebuah pertanyaan berikut yang perlu kita refleksikan yakni; dimana?
Rubrik Utama

Ruang Gagasan dan Inspirasi

Blog ini dirancang sebagai ruang baca yang menampilkan pemikiran, pengalaman, refleksi, dan arah gerakan kepemudaan Papua.

Mari Berkolaborasi untuk Pemuda Papua

Blog ini terbuka sebagai ruang komunikasi, gagasan, dan kolaborasi dengan pemuda, OKP, komunitas, masyarakat, pemerintah, kampus, gereja, dunia usaha, media, dan semua pihak yang ingin membangun masa depan Papua secara damai, produktif, dan bermartabat.

Hubungi Benyamin Gurik