Dalam mencari solusi melawan corona dan bagaimana menangani dampak yg timbul di Papua, kita butuh pakar/ahli atau akademisi dari multi disiplin ilmu murni dari kampus utk membuat kajian kontekstual Papua agar dapat dijadikan pedoman pembuatan kebijakan dan pengalokasian anggaran oleh pemerintah provinsi dan kabupaten kota se provinsi Papua, dalam melawan wabah/Pendemi Corona Virus di Papua. Cara pencegahan yg akan lahir sebagai produk kebijakan tidak boleh lahir hanya berdasarkan insting, mimpi kepala daerah atau segelintir org, atau kopi paste model tempat lain diluar, tapi harus lahir dari kajian para pakar di Papua seperti yg disebutkan diatas sesuai konteks sosial budaya dan dan perekonomian masyarakat di Papua. Ini cara yg tepat agar Papua bisa mampu bertahan atau bahkan menang lebih cepat hadapi wabah corona di Papua di tengah berbagai keterbatasan ketersediaan sumberdaya manusia Kesehatan, alat kesehatan (APD) bagi tenaga medis serta fasilitas rumah sakit itu sendiri. Ini alasan saya bilang kajian ini harus lahir oleh akademisi di Papua Untuk menjadi dasar pembuatan/perencanaan kebijakan publik dan keuangan.
Sampai hari ini kita dapat melihat bersama, kebijakan pemerintah daerah di papua masih kacau, tidak terarah dan dan tidak jelas sama sekali dalam menangani wabah corona virus dan dampak yg ditimbulkan bagi masyarakat. Harus jujur diakui, pemerintah provinsi hingga kabupaten/kota di Papua belum punya peta/rute yg jelas untuk hadapi ancaman terburuk dan bagaimana kita bertahan atau bahkan keluar dari ancaman terburuk dimaksud akibat Pendemi COVID 19 ini di Papua.
Masing-masing kepala daerah (kab./kota) mengambil jalan sendiri-sendiri. Provinsi sibuk cari sumber anggaran dan bagaimana menggunakannya sambil jg menyampaikan himbauan² basi seperti jaga jarak, cuci tangan, pake masker, tinggal di rumah yg sebenarnya semua su capek dan bosan mendengarnya. Dan tidak pernah, baik provinsi maupun kabupaten/kota memberikan kami gambaran arah kebijakan pasti soal dari dan akan kemana kita ketika menghadapi masa² sulit (jika ada), bagaimana kesiapan medis, bagaimana ketika pasien menjadi 1000 org? Cukup kah alat dan tenaga medis kita ke depan utk menanganinya? belum lagi soal dampaknya di masyakarat. apa yg harus dilakukan kepada masyarakat yg terdampar, siapa mereka yg benar² terdampar, bagaimana pendidikan di tengah wabah? Bagaimana menjaga dampak Ekonomi dan solusi kedepan? Dan banyak lagi soal yg musti di kaji dan di carikan solusinya.
Kalo dari awal kepala daerah kita cerdas, kita tidak kewalahan dan babingung seperti sekarang hadapi corona di Papua. Kenapa sa bilang kita babingung? Yah sejak awal sa liat kita merasa sok tau dan mampu atasi berdasarkan pemahaman terbatas sendiri dampak dari wabah sekelas Pendemi yg serangannya luar biasa dan mengguncang seluruh sektor kehidupan dan penghidupan dunia ini.
Su tidak cerdas, baru bikin diri tau² (paling tau dan paling mampu) sendiri akibatnya kekacauan akan kita tuai seterusnya nanti.
Cara pencegahan dan penanganan kita di Papua terlalu beragam dan sangat rapuh, boros, tidak jelas dan tidak terarah serta sama sekali bersampak dalam jangka
Panjang cara tersebut tidak didapat melalui sebuah pengkajian/pengujian menggunakan metodologi ilmiah. Dan untuk menggunakan metodologi ilmiah, pakar dari multidisiplin ilmu yg Berasal dari kampus yg harus dilibatkan. Bukan pakar jadi-jadian atau siluman dari institusi dan atau lembaga manapun yg sejak dahulu kita tahu punya banyak kepentingan lain dibelakang. Kajian harus menggunakan metodologi dan data yg jelas, terukur dan bisa dipertanggungjawabkan atau dievaluasi pelaksanaannya. Termasuk didalamnya Semua kebijakan pusat harus kontekstualisasi sesuai kebutuhan dan kondisi riil papua seperti di urai sedikit diatas.
Cara menangani wabah sekelas Pendemi ini tidak bisa menggunakan hasil studi kebijakan yg berasal dari luar Papua atau berdasarkan pemahaman sendiri yg jelas sangat terbatas itu. Kenapa demikian? Yah karena kebijakan apapun yg berasal dari kajian org di luar itu Tidak kontekstual dengan berbagai kondisi/ faktor² di papua. Faktor² tersebut ini bukan saja soal distribusi uang tunai atau bama, siapa yg berhak, tapi jg kajian soal sosial budaya papua berkaitan dengan kerawanan atau kerentanan penularan virus di Papua, kemana uang harus di belanjakan, kebijakan apa yg perlu diambil setelah melihat keterbatasan alat atau tenaga medis, rumah sakit dll sebagainya, bagaimana membangun kesiapan masyarakat dalam menghadapi ancaman terburuk akibat Pendemi ini, Dan masih banyak lagi.
Penting diingat, "Miliaran bahkan triliunan uang tak akan mampu biayai kebodohan siapapun anda," (BG). Terutama anda yg kami serahi tanggungjawab kelola dana milik rakyat di APBD selama 5 tahun sebagai kepala daerah. Jangan menyalahgunakan kepercayaan kami masyarakat kepada anda untuk mengurus kami mengelola uang rakyat (APBD), atau membuat kebijakan yg keliru utk menghadapi wabah pandemi ini.
Pesan saya sebagai aktivis pemuda mewakili masyarakat sekali lagi kepada gubernur provinsi Papua/dan bupati/walikota kab/kota se PAPUA dan seluruh pihak terkait agar segera buka diri, Libatkan Akademisi utk memberi masukan berupa kajian² supaya bapak/ibu kepala daerah tidak salah atau tidak tepat dlm memproduksi/membuat perencanaan kebijakan dan dalam perencanaan mengalokasikan anggaran utk hadapi wabah Pendemi yg melanda dunia ini.
Segera bangun kerja sama dengan kampus, libatkan para pakar kebijakan publik/pakar bidang lainya yg relevan di perguruan tinggi² yg ada di UNCEN atau kampus lainya utk mengkaji secara mendalam menggunakan metodologi keilmuan berbagai kemungkinan, peluang, tantangan dan kiat² yg perlu dilakukan agar kita bisa mampu bertahan atau bahkan sukses hadapi wabah ini seperti yg saya sebutkan diatas. Kemudian ada semacam langkah² yg di siapkan lewat kajian itu jg agar bagaimana kita mampu bangkit dari kemungkinan krisis paskah wabah ini.
Sekali lagi, jangan bikin diri paling tau dan bisa atasi masalah ini sendiri. Yg lulus cumlaude dari kampus itu sedang mengajar di kampus² jadi kerjasama dengan dorang penting supaya apapun kebijakan itu punya kualitas secara akademik, terukur dapat diperbaharui maupun di pertanggungjawabkan . Terutama kerja sama dengan pakar di bidang kebijakan publik, ekonomi, sosiologi dan antropologi, hukum, kedokteran, epidemiologi, statistik atau matematika atau bidang lainya yg relevan untuk hadapi wabah ini.
Melibatkan para pakar (akademisi) dalam perumusan atau perencanaan kebijakan Dan anggaran adalah cara cerdas para kepala daerah menutup kemungkinan pemborosan yg tudak perlu, merawat dan memberi ruang yg cukup bagi tenaga medis dan rumah sakit rawat inap yg terbatas agar bekerja maksimal, pendistribusian bantuan yg tepat sasaran, penyediaan kebutuhan yg benar² meyelesaikan masalah.
Tanpa itu, (mohon maaf) apapun cara dan uang yg di pakai tentu tidak akan cukup dan justeru kurang serta tidak memiliki dampak yg signifikan bagi penyelesaian masalah ini maupun pemilihan situasi.
Pesan terakhir yg tak usah diperdebatkan , Tidak ada uang yg lebih besar yg mampu membiayai kebijakan yg salah akibat dari kebodohan kita, jadi jangan lakukan kesalahan terlalu besar dalam membuat kebijakan atau mengalokasikan anggaran untuk tujuan menghadapi wabah Pendemi covid 19 ini.
Video gubernur jawa barat yg viral di sosial media ini bisa dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kebutuhan Papua khusus dalam hal utk penanganan bantuan sosial. Bisa tonton videonya dgn klik link ini; 👉https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3215789891773280&id=100000269016645
Catatan;
Ini pikiran pribadi saya dalam menilai pola penanganan yg dilakukan oleh seluruh kepala daerah di Papua. Semoga ada faedahnya. 🙏🙏
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Komentar
Posting Komentar