“Saya anak pendeta Bimbert Gurik yang sekarang menetap di Jayapura
bapa.” Ia sedikit gugup menerima uluran tangan saya untuk menerima berkat seadanya yang saya berikan. Sambil menatap
saya dengan mata berkaca-kaca ia mengatakan dengan nada tersendat menahan sesak, “Terimakasih
anak, kamu dulu kecil-kecil baru keluar dari Kampung jadi
saya tidak ingat kamu punya muka sama sekali oo…, ‘Sekarang kamu sudah besar semua dan Tuhan
antar jadi saluran berkat buat saya siang ini, sahutNya.”
 |
| Pertemuan tidak sengaja dengan Bapa Abraham dari Kampung Zaman |
Merauke, 02 Januari 2020. Pukul 14.00 Siang tadi, Tidak
sengaja saya bersua dengan seorang yang dari penampilanya terlihat sudah
berusia setengah abad. Ia penjual mangga yg menjajakan mangganya di depan
parkiran salah satu Bank yang cukup ramai di Merauke. Dari mobil ke mobil yang
hendak parkir atau akan keluar parkiran, ia menjajakan mangganya kesana kemari sambil
berharap ada org baik hati yang iba dan mau membeli mangga jualannya yg ia
tenteng di tangannya didalam kantong kresek. Saya yang baru hendak parkir ditempat
ini berfikir dia akan datang menawarkan mangganya juga ke saya namun ternyata
tidak. Dia berbalik membelakangi mobil saya dan berjalan sambil menenteng
kantong kresek hitam berisi mangga didalamnya, ia pergi menjauh dari mobil yg
sedang saya parkir.
Saya yang memang
terbiasa tidak tahan ketika melihat org Papua asli seperti ini. Apalagi dihadapan
saya ini org tua berusia lanjut yg menginjak rasa malu dan berdiri entah
mungkin sudah dari pagi dengan tujuan bukan untuk meminta-minta atau melakukan
pekerjaan yg tidak halal, Ia berdiri di lapangan parkiran mobil di terik
matahari pagi hingga siang yg menyengat dan melakukan pekerjaan bermartabat dan terhormat
yakni menjual buah Mangga yang ia ambil dari tempatnya sendiri.
Karena dia sudah
pergi kembali menjajakan mangganya di seberang dan membelakangi mobil saya. Selanjutnya
saya membunyikan klakson dua kali berturut-turut sambil membenarkan mobil
di tempat parkiran untuk menarik perhatianya.
Saya sangaja membunyikan klakson untuk menarik perhatinya agar
saya dapat melihat apa isi kantong yang beliau pegang dan jajakan di siang bolong
yg menyengat ini. Ia berpaling namun sedikit mengabaikan sinyal yang saya
berikan, sekali lagi saya membunyikan klakson ke tiga dengan sedikit keras
untuk menarik perhatianya.
Dan baru kali ini, akhirnya dia mau berpaling
dengan
setengah berbalik badan mencari-cari
dari mana asal dan untuk tujuan apa bunyi klakson itu ditujukan. Saya yg sudah
tidak tahan dan melihat org tua ini, langsung menurunkan kaca mobil sambil
menjulurkan tangan keluar kaca dan memberi kode dengan tangan memanggil org tua
yg sedang berputar² dari mobil ke mobil, dari satu org ke org lain untuk
menjajakan jualannya.
Ia menatap penuh
harap kepada saya sambil cepat menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan bahwa
ia yang memang saya panggil. Dengan penuh harap ia menghampiri saya dengan raut wajah seolah sedang memohon
dan berharap saya adalah orang yang dapat memenuhi kebutuhanya mendapatkan uang
dengan membeli mangga yg ia jual sedari pagi tadi.
Ketika dia telah
berdiri disamping mobil, saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sedikit untuk
mengetahui siapa dia, sedang apa disini. Berikut percakapan kami; Saya ; "Bapa
jual apa?" dengan wajah penuh harap ia menatap saya sambil menyahut;
"saya bawah mangga anak!" Sambil meminta kantong kresek untuk
mengecek mangga didalam kantong kresek hitam yg ia pegang, saya bertanya lagi,
"bapa tinggal dimanakah? "Kampung baru anak,” jawabnya dengan nada
merendah. " Bapa dari Yakhai
kah?" (Yakhai nama suku dari daerah Mapi) saya bertanya untuk mengetahui
asal sukunya. “Tidak anak! ’saya dari Pantai Kasuari, Kampung Zaman lanjutnya!”
Kali ini saya
langsung terpukul. Ternyata orang tua yang saya temui ini berasal dari salah
satu kampong di di Distrik Pantai Kasuari, tempat dimana saya pernah
menghabiskan masa kanak-kanak sampai SMP dan telah saya tinggalkan hamper 20
tahun lebih. Sekejap itu pula, semua kenangan saya tentang masa kanak-kanak
semua kembali. Saya mencoba mengingat-ingat nama orang di kampung yang baru saya dengar. Dengan sedikit
penasaran, saya mencoba menanyakan beberapa nama yang muncul di ingatan saya
sekejap tentang orang-orang di kampung
dari mana ia berasal. “Bapak kenal kk Simson yang kawin orang Wamena kah?” “Oh
iya, saya kenal tuh, sahutnya!” saya menanyakan beberapa nama yang sempat saya
ingat dan dia menyebut semua dengan benar.
Terakhir saya
bertanya lagi, “Bapa kenal Pdt. Bimbert Gurik,” Tanya saya dengan sedikit
penasaran, “saya kenal itu, sahutnya’ ‘Bapa
pendeta dia dulu di Kaipom tapi kemudian pindah ke Kamur terus sekarang sudah
pindah ke Boven Digoel saya dengar,’ Lanjutnya.” Saya tidak melanjutkan percakapan soal siapa
dia dan tentang ingatan saya akan masa kanak-kanak disana. Kali ini saya
bertanya berapa harga mangga yang ia jajakan ini, sambil menunjukan mangga yang
sudah saya periksa didalam kantong kresek yang ia bawa. “Empat Puluh ribu anak,
jawabnya.”
Saya mengambil dompet disamping saya dan
mengeluarkan uang tersisa didompet tersebut dan menyerahkan kepadanya sambil
mengatakan, “Saya anak pendeta Bimbert Gurik yang sekarang menetap di Jayapura
bapa.” Ia dengan gugup menerima uluran tangan saya untuk menerima uang sambil menatap
saya dengan berkaca-kaca dengan mengatakan dengan sedikit tersendat, “terimakasih
anak, kamu dulu kecil-kecil baru keluar dari sana jadi
saya tidak ingat kamu punya muka sama sekali oo…,’ ‘Sekarang kamu sudah besar semua dan Tuhan
antar jadi saluran berkat buat saya siang ini, sahutnya.” Kali ini saya yang ikut larut dalam
kesedihan mengenang masa kanak-kanak dulu dan bagaimana mereka memperlakukan
orang tua kami ketika masih berada disana selama kurun waktu 1960-an-hingga
awal 2000an. Sebelum pergi dia secara
berulang memberkati saya dengan ucapan berkat dan kemudian ia menghilang
diantaraa mobil yang berjejer di pelataran parkiran itu.
Setelah dia
pergi, kini saya yang terduduk sedih sambil menahan sesak mengingat betapa
waktu ini cepat berlalu dan kadang kita tidak dapat menduga bisa saling
memberkati diwaktu yang berbeda dan dengan cara yang berbeda. Hufffttt…. Selamat jalan bapa, "Kami hanya
orang kaya yang belum sejahtera!
Komentar
Posting Komentar