Benyamin Gurik | Ketua KNPI Provinsi Papua | Tenang. Terukur. Berdampak.

Benyamin Gurik

Ketua KNPI Provinsi Papua

Berakar. Berkarya. Berdampak.
Blog Pribadi Benyamin Gurik

Kepemimpinan Pemuda Papua yang Tenang, Terukur, dan Berdampak

Blog ini menjadi ruang catatan, gagasan, refleksi, dan gerakan Benyamin Gurik dalam mendorong pemuda Papua agar bersatu, berdaya, berkarya, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat, daerah, dan Indonesia.

Personal Branding

Arah Karakter Benyamin Gurik

Branding pribadi ini dibangun bukan untuk pencitraan kosong, tetapi untuk menunjukkan karakter kepemimpinan yang berakar pada Papua, bekerja secara terukur, dan menghadirkan manfaat.

Tenang

Hadir sebagai figur muda yang tidak gaduh, tidak reaksioner, tetapi mampu membaca keadaan dengan kepala dingin dan hati jernih.

Terukur

Mengutamakan gagasan, data, strategi, program, dan arah kerja yang jelas dalam membangun pemuda Papua.

Berdampak

Mendorong setiap gagasan dan gerakan agar memberi manfaat nyata bagi pemuda, masyarakat, dan masa depan Papua.

Menyatukan

Membangun jembatan antara pemuda, OKP, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan seluruh kekuatan sosial Papua.

Diberkati dan Memberkati Lewat Pertemuan Tidak Sengaja Yang Berkesan Diawal Tahun 2020

“Saya anak pendeta Bimbert Gurik yang sekarang menetap di Jayapura bapa.” Ia sedikit gugup menerima uluran tangan saya untuk menerima berkat seadanya yang saya berikan. Sambil menatap saya dengan mata berkaca-kaca ia mengatakan dengan nada  tersendat menahan sesak, “Terimakasih  anak,  kamu dulu kecil-kecil baru keluar dari Kampung jadi saya tidak ingat kamu punya muka sama sekali oo…,  ‘Sekarang kamu sudah besar semua dan Tuhan antar jadi saluran berkat buat saya siang ini,  sahutNya.”

Pertemuan tidak sengaja dengan Bapa Abraham dari Kampung Zaman
Merauke, 02 Januari 2020.  Pukul 14.00 Siang tadi, Tidak sengaja saya bersua dengan seorang yang dari penampilanya terlihat sudah berusia setengah abad. Ia penjual mangga yg menjajakan mangganya di depan parkiran salah satu Bank yang cukup ramai di Merauke. Dari mobil ke mobil yang hendak parkir atau akan keluar parkiran, ia menjajakan mangganya kesana kemari sambil berharap ada org baik hati yang iba dan mau membeli mangga jualannya yg ia tenteng di tangannya didalam kantong kresek. Saya yang baru hendak parkir ditempat ini berfikir dia akan datang menawarkan mangganya juga ke saya namun ternyata tidak. Dia berbalik membelakangi mobil saya dan berjalan sambil menenteng kantong kresek hitam berisi mangga didalamnya, ia pergi menjauh dari mobil yg sedang saya parkir. 

Saya yang memang terbiasa tidak tahan ketika melihat org Papua asli seperti ini. Apalagi dihadapan saya ini org tua berusia lanjut yg menginjak rasa malu dan berdiri entah mungkin sudah dari pagi dengan tujuan bukan untuk meminta-minta atau melakukan pekerjaan yg tidak halal, Ia berdiri di lapangan parkiran mobil di terik matahari pagi hingga siang yg menyengat dan  melakukan pekerjaan bermartabat dan terhormat yakni menjual buah Mangga yang ia ambil dari tempatnya sendiri. 

Karena dia sudah pergi kembali menjajakan mangganya di seberang dan membelakangi mobil saya. Selanjutnya  saya membunyikan klakson dua  kali berturut-turut sambil membenarkan mobil di tempat parkiran untuk menarik perhatianya.
Saya sangaja membunyikan klakson untuk menarik perhatinya agar saya dapat melihat apa isi kantong yang beliau pegang dan jajakan di siang bolong yg menyengat ini. Ia berpaling namun sedikit mengabaikan sinyal yang saya berikan, sekali lagi saya membunyikan klakson ke tiga dengan sedikit keras untuk menarik perhatianya.  Dan baru kali ini,  akhirnya dia mau berpaling dengan  setengah berbalik badan mencari-cari dari mana asal dan untuk tujuan apa bunyi klakson itu ditujukan. Saya yg sudah tidak tahan dan melihat org tua ini, langsung menurunkan kaca mobil sambil menjulurkan tangan keluar kaca dan memberi kode dengan tangan memanggil org tua yg sedang berputar² dari mobil ke mobil, dari satu org ke org lain untuk menjajakan jualannya.

Ia menatap penuh harap kepada saya sambil cepat menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan bahwa ia yang memang saya panggil. Dengan penuh harap ia menghampiri  saya dengan raut wajah seolah sedang memohon dan berharap saya adalah orang yang dapat memenuhi kebutuhanya mendapatkan uang dengan membeli mangga yg ia jual sedari pagi tadi. 

Ketika dia telah berdiri disamping mobil, saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sedikit untuk mengetahui siapa dia, sedang apa disini. Berikut percakapan kami; Saya ; "Bapa jual apa?" dengan wajah penuh harap ia menatap saya sambil menyahut; "saya bawah mangga anak!" Sambil meminta kantong kresek untuk mengecek mangga didalam kantong kresek hitam yg ia pegang, saya bertanya lagi, "bapa tinggal dimanakah? "Kampung baru anak,” jawabnya dengan nada merendah.  " Bapa dari Yakhai kah?" (Yakhai nama suku dari daerah Mapi) saya bertanya untuk mengetahui asal sukunya. “Tidak anak! ’saya dari Pantai Kasuari, Kampung Zaman lanjutnya!” 

Kali ini saya langsung terpukul. Ternyata orang tua yang saya temui ini berasal dari salah satu kampong di di Distrik Pantai Kasuari, tempat dimana saya pernah menghabiskan masa kanak-kanak sampai SMP dan telah saya tinggalkan hamper 20 tahun lebih. Sekejap itu pula, semua kenangan saya tentang masa kanak-kanak semua kembali. Saya mencoba mengingat-ingat nama orang di kampung  yang baru saya dengar. Dengan sedikit penasaran, saya mencoba menanyakan beberapa nama yang muncul di ingatan saya sekejap  tentang orang-orang di kampung dari mana ia berasal. “Bapak kenal kk Simson yang kawin orang Wamena kah?” “Oh iya, saya kenal tuh, sahutnya!” saya menanyakan beberapa nama yang sempat saya ingat dan dia menyebut semua dengan benar. 

Terakhir saya bertanya lagi, “Bapa kenal Pdt. Bimbert Gurik,” Tanya saya dengan sedikit penasaran, “saya kenal itu, sahutnya’  ‘Bapa pendeta dia dulu di Kaipom tapi kemudian pindah ke Kamur terus sekarang sudah pindah ke Boven Digoel saya dengar,’ Lanjutnya.”  Saya tidak melanjutkan percakapan soal siapa dia dan tentang ingatan saya akan masa kanak-kanak disana. Kali ini saya bertanya berapa harga mangga yang ia jajakan ini, sambil menunjukan mangga yang sudah saya periksa didalam kantong kresek yang ia bawa. “Empat Puluh ribu anak, jawabnya.” 

Saya  mengambil dompet disamping saya dan mengeluarkan uang tersisa didompet tersebut dan menyerahkan kepadanya sambil mengatakan, “Saya anak pendeta Bimbert Gurik yang sekarang menetap di Jayapura bapa.” Ia dengan gugup menerima uluran tangan saya untuk menerima uang sambil menatap saya dengan berkaca-kaca dengan mengatakan dengan sedikit tersendat, “terimakasih  anak,  kamu dulu kecil-kecil baru keluar dari sana jadi saya tidak ingat kamu punya muka sama sekali oo…,’  ‘Sekarang kamu sudah besar semua dan Tuhan antar jadi saluran berkat buat saya siang ini,  sahutnya.” Kali ini saya yang ikut larut dalam kesedihan mengenang masa kanak-kanak dulu dan bagaimana mereka memperlakukan orang tua kami ketika masih berada disana selama kurun waktu 1960-an-hingga awal 2000an.  Sebelum pergi dia secara berulang memberkati saya dengan ucapan berkat dan kemudian ia menghilang diantaraa mobil yang berjejer di pelataran parkiran itu.

Setelah dia pergi, kini saya yang terduduk sedih sambil menahan sesak mengingat betapa waktu ini cepat berlalu dan kadang kita tidak dapat menduga bisa saling memberkati diwaktu yang berbeda dan dengan cara yang berbeda.  Hufffttt…. Selamat jalan bapa, "Kami hanya orang kaya yang belum sejahtera! 



Komentar

Rubrik Utama

Ruang Gagasan dan Inspirasi

Blog ini dirancang sebagai ruang baca yang menampilkan pemikiran, pengalaman, refleksi, dan arah gerakan kepemudaan Papua.

Mari Berkolaborasi untuk Pemuda Papua

Blog ini terbuka sebagai ruang komunikasi, gagasan, dan kolaborasi dengan pemuda, OKP, komunitas, masyarakat, pemerintah, kampus, gereja, dunia usaha, media, dan semua pihak yang ingin membangun masa depan Papua secara damai, produktif, dan bermartabat.

Hubungi Benyamin Gurik