Saya Masih Waras! Menolak sikap saling Mem'Pendatang'kan Sesama OAP dengan sebutan Pendatang/bukan Orang Asli diseluruh Wilayah ADAT Papua [Sorong - Samarai]

 .Tulisan ini saya buat untuk menjawab beberapa pertanyaan/sorotan yang ditujukan kepada saya beberapa waktu kemarin ketika saya dilibatkan oleh Masyarakat Adat kabupaten Keerom melalui Dewan Adat Keerom guna memperjuangkan pelantikan wakil bupati Kabupaten Keerom yang mengalami penundaan hampir setahun lebih. Sebagian narasi saya juga disini mengungkapkan keprihatinan saya akan adanya  pergeseran persepsi diantara kalangan aktivis pemuda Papua, khususnya aktivis pemuda (bukan yang bergelut dengan perjuangan politik Papua) ketika bicara persatuan ke’Papua’an saat ini.
Selain hal diatas, diawal sini saya juga perlu sampaikan bahwa saya menulis ini bukan untuk menyerang  atau  untuk membangun sebuah permusuhan dengan saudara-saudara kita yang datang dari luar Papua (pendatang), tetapi saya lebih kepada upaya mengingatkan kita semua agar dapat berpikir dan bertindak sopan, saling menghormati antara sesama Papua (OAP-pemilik tanah Air Papua), sesama Pendatang (Non Papua), atau antar Pendatang dengan tuan Rumah Tanah Papua (OAP - Non-Pendatang.

Terkait dengan adanya isu yang berkembang dan diarahkan kepada kami terkait perjuangan untuk membantu masyarakat mendaptkan kepastian pelantikan wakil bupati Keerom nih sa mo bilang begini; Saya bukan anak adat asli Keerom memang. Tapi saya punya tanah air termasuk Keerom dan sekitarnya karena kami masih berasal dari satu daratan besar. Jangan bangun opini sesat dan miring untuk memprovokasi kami sesama anak adat Papua saling baku sikat dengan isu anak Tabi, lapago, anim ha, saireri dll. Kalo ada yg berfikir atau menuduh saya org luar yg bicara sembarang tentang masyarakat adat Keerom, ko yang harus dipertanyak punya tanah dimana?

Sa org asli Papua dari Tolikara yang lahir dan bertumbuh besar di Wilayah adat orang Anim Ha. Sa pu tanah di Tolikara itu tasambung dari sorong-merauke sampe samarai. Sa pu hak bicara berbagai hal terkait hak-hak orang  asli Papua diseluruh tanah Papua (Sorong - Samarai).

Keerom itu bukan sebuah  lautan yang tanahnya digali dari luar Papua dan kam bawah datang  timbun untuk membentuk daratan Keerom.  Keerom adalah Papua!  Tuan rumah disana adalah..
orang asli Papua yang sudah menetap ribuan bahkan jutaan tahun lalu sebelum bangsa-bangsa lain dari luar datang kesana.

Orang Keerom adalah orang Papua! Begitu pula kami yang berasal dari Sorong - Merauke/Samarai adalah orang Papua. Kami berhak berjuang untuk saling membela dan menjaga sebagai sesama anak pemilik tanah besar ini di daerah mana saja di daratan Tanah Besar Papua. Kami akan sangat menghormati saudara-saudari kami dari luar yang ikut berjuang untuk menempatkan saudara/i kami OAP tetap menjadi tuan diatas tanah dan negerinya, tapi kami juga keberatan berbagai upaya Terstruktur sistematis dan masif untuk memarginalisasi OAP di semua sektor kehidupan dan penghidupan diatas tanah leluhurnya. Termasuk juga  dalam upaya merebut/mengisi kursi legislative dan kepala daerah. Apapun alasanya,  OAP harus ada di prioritas utama. Saya bilang OAP ini tidak berdasarkan harus berasal dari daerah mana tetapi, selama dia memiliki peluang, ruang utama harus diberikan kepada mereka setelah penduduk adat setempat.

Kami mengecam oknum-oknum tertentu yang bukan OAP dan sedang bermain membangun opini miring di anak-anak  adat Keerom tentang OAP asli Keerom dan OAP Pendatang di Keerom. OAP mulai dari Rajaampat sampe Merauke atau bahkan Samarai - PNG adalah pemilik tanah pulau terbesar dan terkaya di dunia ini. Orang Sorong maju di Keerom atau Orang Sentani Maju di Tolikara Atau mo silang dari merauke maju di Rajaampat selama dia adalah org Asli, jangan babingung bilang dia pendatang di daerah manapun diatas  tanah besar ini. pemikliran sesat dan sempit seperti itu harus segera dibersihkan.

Saya harap saudara-saudari OAP yang  lain juga kam stop mau diprovokasi dengan mengatakan "ini tanah Tabi  jadi harus Tabi yang bisa apa saja disini, atau ini tanah Domberay jadi harus orang Domberay. Ini provokasi pemecah bela yg tidak masuk akal yg dirawat dengan baik untuk merusak akal sehat org Papua. Semua OAP yg bilang Org Tabi adalah Pendatang di Meepago, atau Saireri pendatang di Tabi dll harus dicek akal sehatnya masih ada atau tidak. Jangan-jangan dia mengalami gangguan kejiwaan baru kamu dengar dia lagi. Kalo dia orang waras, atau dia tidak gila, maka dia adalah manusia terkutuk yg menyangkal akan fakta bahwa Pulau Papua ini terdiri dari satu daratan dengan beberapa pulau disekitar yg memiliki satu ikatan kekerabatan dan terpisah hanya karena jarak saja.

Beda bicara kalo su talapas dari sorong keluar. Itu jelas dan benar bukan OAP. Tapi bagian ini selama dong (non OAP) bersikap hormat atau menghargai Tuan besar pemilik tanah Papua dari sorong sampai Merauke maka, dong pantas mendapat tempat yg layak dihati dan tanah yg OAP miliki. Jang bicara tabola-bale seolah ada OAP dari Anim ha itu pendatang di Tabi atau Tabi itu pendatang di Anim Ha. itu sebuah pendapat yang keliru untuk memanipulasi sebuah  realitas tak terbantahkan bahwa, kami Papua semua  ada di satu daratan dengan beberapa Pulau disekitar.

Sa mo bilang buat kita semua, termasuk saya sendiri Tidak peduli kita sebagai kepala daerah kah, Pastor kah, atau pendeta dari surga kah, camat, mahasiswa, kepala kampung, PNS, politisi selama kita OAP yg biasa mem-pendatang-kan OAP lain di wilayah daratan tanah Papua, ko atau sy adalah bajingan Penghianat yg lebih murah harganya dari pada anjing kaskado yg suka tidur - bangun, makan dan berak di tampat sampah. Jangan bicara akal sehat, otak saja pasti tra punya. Kalo pun punya otak, bisa pastikan isinya semua sampah yg tiap hari dimakan dari orangg yg benci PAPUA bersatu, maju, kuat dan berjaya.

Jadi, kalo saya ada di Keerom skarang dan besok akan ada dimana saja untuk bicara dan perjuangkan hak-hak OAP itu adalah hak dan tanggungjawab saya. Tidak ada setan satupun yang dapat membatasi dan atau menghalangi saya selama yang saya perjuangkan adalah benar untuk rakyat dimana saya berada. mungkin begitu respon saya buat kam yang ada jalan hasut masyarakat saya di keerom untuk balik menentang apa yang saya dan teman-teman tong perjuangkan bersama tetuah adatnya disana.

Terkahir sa hanya mo bilang begini; "Tong su Sedikit nih, jumlah kitong OAP bertambah hanya karena faktor kelahiran saja dengan kerentanan terhadap resiko yang sangat tinggi. sementara itu, saudara-saudari kita yang dari luar   tiap hari bertambah bukan saja karena faktor kelahiran dengan bahkan tanpa resiko. Dong berkembang bisa 10-1000 kali lipat lebih cepat karena faktor migrasi dari luar yang tidak bisa terbendung setiap hari ini. Mari Tong Baku Jaga dan saling menghormati  sudah sobat.....!!!


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memimpin Papua Dengan Data, Bukan Insting

Peta Politik Nasional Berubah, Mathius Fakhiri & Aryoko Rumaropen Layak Pimpin Papua saat ini.

Duka Yang Tidak Perlu di Papua.