Duka Yang Tidak Perlu di Papua.


"Janda Yatim Yang Terpaksa Dan Kenangan Manis Tentang Orang Maluku di Papua dahulu"

Malam yang tragis.  Bingung mo bilang apa deng kasus kebiadaban yg mereka lakukan terhadap anda sobat. Malam itu anda pasti sangat terkejut di hadang oleh sekelompok masa yang buas, brutal, kejam dan liar. Masa yang menuntut balas secara membabi buta. Masa yang kejahatannya seperti di benarkan aparat kepolisian yang diam ketika melihat engkau di keroyok dan dianiaya seorang diri tanpa perlawanan hingga engkau menghembuskan nafas terakhir dan meninggalkan dunia untuk selamanya di tangan mereka.

Darahmu tertumpah di tanah pusaka mu. Engkau saya dan kita semua kelompok masyarakat Papua yang di kejar malam itu dibuat seolah sedang hidup di negeri orang. Kita benar-benar seperti tidak berdaya. Caci maki suara mereka yg menggema memecah kesunyian malam itu masih teringat di hati kami hingga saat ini. Engkaupun pasti mendengarnya sebelum nafas terakhir kehidupan engkau hembuskan. Sioooooooo....., "Wame.... Anjing, Wame... Babi, Wamen... Biadap,  Bangsat, bunuh orang Wame....., dll dst...." Wamena dan Wamena yang mereka sebut diiringi kata-kata  caci-maki dan hinaan itu menyakitkan memang. Dan kita yang tidak tau apa-apa tentang berbagai kejahatan yang terjadi akhir-akhir ini pun menjadi korban penghinaan mereka secara membabibuta malam itu. Sayang ah....

"Mereka" berhasil melebelkan berbagai tindakan kriminal, kekerasan, penjambretan dan pembunuhan kepada suku kita. Kematianmu menunjukan kepada kami bahwa;


"Membunuh orang dari pegunungan (bahkan yg tidak tau masalah sekalipun seperti anda adalah benar." Iya, Polisi yang bertugas saat itu dengan senjata lengkap seperti menjadi tembok penghalang untuk melindungi kejahatan yg mereka lakukan dalam mengayunkan parang, belati, sangkur menyayat, menusuk, melukai seluruh tubuhmu dengan senjata mereka. Mereka membenarkan kejahatan itu di tanah ini. Entahlah... mungkin peluru dan gas airmata dan atau water canon yang dong miliki hanya untuk menembak yg lain. Bukan untuk menghalangi atau membubarkan aksi brutal di tengah jalan raya pada malam itu.

Sekedar penegasan dan kekesalan kami.
Atas dasar dan alasan apapun juga penjambretan, pemalakan, perampokan disertai kekerasan atau penyiksaan,  apalagi pembunuhan merupakan kejahatan kemanusiaan terbesar yang kita semua (dari agama dan suku manapun) pastinya  tidak setuju. Siapapun orang yang melakukan kejahatan demikian,  dia adalah manusia biadap, terkutuk dan paling hina di muka bumi yang harus bertobat atau kalau perlu disingkirkan dari kehidupan di dunia ini.

Buat para sahabat, keluarga, orang tua dan masyarakat Maluku di Tanah Papua yang terkasih. Ingat bahwa kita telah hidup berdampingan dengan rukun dan damai puluhan bahkan ratusan tahun di tanah ini. Para nenek moyang kami bangsa papua telah menerima orang Maluku dengan baik untuk hidup di tanah ini. Nenek moyang orang maluku kita kenal datang ke Papua untuk memberitakan injil, menjadi guru-guru pertama yg mendidik kami, membuat bangunan-bangunan sekolah, gereja dan telah  berkontribusi besar membangun peradaban kami bangsa Papua.

Satu pesan kami bangsa Papua; “Tolong jaga dan rawat keharmonisan, ketentraman, kedamaian, kerukunan hubungan yang sudah terawat lama di tanah ini.  Jangan rusak karya luhur nenek moyang bangsa maluku yang kita kenal sebagai pewarta injil dan menjadi pionir-pionir pendidikan yang  telah banyak mencerdaskan anak-anak  Papua sejak puluhan tahun silam. “Orang Maluku harus berdiri paling depan membela orang Papua kalau orang Papua di perlakukan tidak adil, dibunuh atau di bantai seperti binatang oleh aparat atau oleh siapa saja, karena nenek moyang orang maluku masuk ke Papua bukan untuk cari makan atau cari tempat tinggal tapi utk jadi berkat bagi bangsa Papua.”

Kejahatan beberapa malam lalu itu suatu tindak brutal, kejam, biadab dan tidak berperikemanusiaan dan sudah merusak wajah orang Maluku yang kita kenal dahulu. Seandainya kalau ada salah satu nenek moyang dari Maluku yang masih hidup, dia pasti menangis sedih. Bagaimana tidak, motivasi besar mereka meninggalkan kampung halamannya dan sanak saudara (pela gandong), menyeberang lautan, melawan badai dan ombak serta mempertaruhkan nyawa untuk masuk ke tanah ini adalah mengajar dan mendidik orang yang kemarin di bantai di tengah jalan seperti binatang itu.

Dari sini kami minta dengan hormat kepada yang terkasih rakyat dan tua-tua adat Maluku di Jayapura dan sekitarnya. Apapun alasannya pelaku kejahatan dan otak intelektual oknum yang mengajak aksi pembalasan secara membabibuta dan tidak berperikemanusiaan itu harus di serahkan ke polisi untuk di hukum seberat-beratnya. Hal yang sama juga berlaku buat seluruh pembuat kejahatan kemanusiaan, tidak peduli dari suku bangsa manapun.

Sekali lagi bahwa, tidak ada suku bangsa di Papua yang setuju atau membenarkan kejahatan seperti itu karena jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral, adat-istiadat dan agama. Kejahatan oknum harus di tanggung oleh oknum tersebut. Kalau adik kandung saya terlibat kasus pembunuhan atau kejahatan lainnya, saya orang pertama yang akan menyerahkan dia ke polisi. Melindungi pembuat kejahatan walaupun dia saudara kandung saya sama saja merawat kejahatan. Dan karena kejahatan saudara saya, kalau ada org yang mau menyerang saya itu kejahatan juga namanya. Kecuali kalau saya terlibat merencanakan kejahatan itu.

Yah, itu sedikit keluh kesah dan harapan saya. Mari rawat persaudaraan, dukung penegakan hukum dan tolak tindakan main hakim sendiri yang pada akhirnya hanya akan merusak hubungan cinta kasih, kedamaian, ketentraman, keakraban dan kemesraan yang indah antara kita. Hmmm.... satu lagi, sa ada "pedekate" k ini deng nona Ambon satu jadi sa terganggu skali deng masalah ini. Sa mo masuk minta buat sa pu sodara tapi situasi ini bisa bikin kacau ale... hehehe...

-------------
Foto : Alm. Pius Kulua
Pius Kulua PNS aktif kabupaten Puncak yg berasal dari Sinak. Pergi ke kehidupan kekal dengan cara tragis di tangan "oknum" pengacau biadab yg berlagak sok pahlawan.  Pius pergi, ayahnya yang terkejut mendengar kabar itu akhirnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri mengikuti jejak anaknya. Pius tulang punggung keluarga terlalu berarti buat seorang ayah. Pius alasan yang cukup kuat membuat ayahnya bertahan. Sioooooooo ah..... “Sayang, duka nestapa yang tidak perlu terjadi kalau kita sadar akan arti dari kehidupan.

Kita semua hidup atas kuasa dan kehendak Tuhan. Saya tidak pernah memilih lahir sebagai orang Tolikara di asmat puluhan tahun silam. Saya juga tidak tau kapan dan dimana saya akan pergi meninggalkan kehidupan dunia. Biarlah semua berjalan dan terjadi menurut kehendak Tuhan. Kalau ada kejahatan yang dilakukan oleh kaum suku saya, demi TUHAN itu kejahatan oknum. Kami tidak pernah bermufakat utk mencuri, merampok atau membunuh siapapun di tanah ini tanpa alasan. Tolong jangan hukum kami dengan stigma dan label yang sama walaupun mungkin sebagian pelaku kejahatan dilakukan oleh kaum suku kami. Percayalah, “kami tidak pernah bermufakat utk itu dan kami juga tidak pernah menyuruh siapapun pergi melakukan kejahatan terhadap siapapun juga.

Sayang........  Pius Kulua pergi untuk selamanya. Perempuan tanah dan anak2nya di paksa menjadi janda dan Yatim. Sioooooooo, Sedih skali. Pius tak sempat lagi dapat mewujudkan mimpi kaum Adam sebagai seorang ayah. Iya, mimpi utk melihat anak bertumbuh, menyekolahkan anak hingga selesai, menikahkan anak dengan gadis pilihannya, (nona Ambon manise misalnya) dan melihat cucu dari anak-anaknya.

Hufffftt.....  sesak dada nih kalo fikir sa yang menjadi perempuan tanah itu. Entahlah, bagaimana nasib perempuan tanah dan anak-anaknya yg memikul takdir dengan terpaksa sebagai janda dan yatim. Sayang, sayang, sayang dan sayang....... Selamat jalan ke kehidupan kekal sobat. Saya tidak pernah mengenalmu. Tapi karena duka Yang Tidak Perlu ini sa mau berbagi rasa tentangmu, bersama dengan wanita dan anak-anak yatim yang terpaksa. Rest In Peace Brother...
----------------------
Ok bro n sist...., kalo tidak keberatan like n share lagi ke teman lain supaya saling menghargai dan menghormati sebagai sesama manusia yah... thanks.

Salam Damai...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memimpin Papua Dengan Data, Bukan Insting

Peta Politik Nasional Berubah, Mathius Fakhiri & Aryoko Rumaropen Layak Pimpin Papua saat ini.