Duka Yang Tidak Perlu di Papua.
"Janda
Yatim Yang Terpaksa Dan Kenangan Manis Tentang Orang Maluku di Papua dahulu"
Oleh:
Gurik Benyamin
Malam
yang tragis. Bingung mo bilang apa deng
kasus kebiadaban yg mereka lakukan terhadap anda sobat. Malam itu anda pasti
sangat terkejut di hadang oleh sekelompok masa yang buas, brutal, kejam dan
liar. Masa yang menuntut balas secara membabi buta. Masa yang kejahatannya
seperti di benarkan aparat kepolisian yang diam ketika melihat engkau di
keroyok dan dianiaya seorang diri tanpa perlawanan hingga engkau menghembuskan
nafas terakhir dan meninggalkan dunia untuk selamanya di tangan mereka.
Darahmu
tertumpah di tanah pusaka mu. Engkau saya dan kita semua kelompok masyarakat
Papua yang di kejar malam itu dibuat seolah sedang hidup di negeri orang. Kita
benar-benar seperti tidak berdaya. Caci maki suara mereka yg menggema memecah
kesunyian malam itu masih teringat di hati kami hingga saat ini. Engkaupun
pasti mendengarnya sebelum nafas terakhir kehidupan engkau hembuskan.
Sioooooooo....., "Wame.... Anjing, Wame... Babi, Wamen... Biadap, Bangsat, bunuh orang Wame....., dll
dst...." Wamena dan Wamena yang mereka sebut diiringi kata-kata caci-maki dan hinaan itu menyakitkan memang.
Dan kita yang tidak tau apa-apa tentang berbagai kejahatan yang terjadi
akhir-akhir ini pun menjadi korban penghinaan mereka secara membabibuta malam
itu. Sayang ah....
"Mereka"
berhasil melebelkan berbagai tindakan kriminal, kekerasan, penjambretan dan
pembunuhan kepada suku kita. Kematianmu menunjukan kepada kami bahwa;
"Membunuh orang dari pegunungan (bahkan yg tidak tau masalah sekalipun seperti anda adalah benar." Iya, Polisi yang bertugas saat itu dengan senjata lengkap seperti menjadi tembok penghalang untuk melindungi kejahatan yg mereka lakukan dalam mengayunkan parang, belati, sangkur menyayat, menusuk, melukai seluruh tubuhmu dengan senjata mereka. Mereka membenarkan kejahatan itu di tanah ini. Entahlah... mungkin peluru dan gas airmata dan atau water canon yang dong miliki hanya untuk menembak yg lain. Bukan untuk menghalangi atau membubarkan aksi brutal di tengah jalan raya pada malam itu.
Sekedar penegasan dan kekesalan kami.
Buat
para sahabat, keluarga, orang tua dan masyarakat Maluku di Tanah Papua yang
terkasih. Ingat bahwa kita telah hidup berdampingan dengan rukun dan damai
puluhan bahkan ratusan tahun di tanah ini. Para nenek moyang kami bangsa papua
telah menerima orang Maluku dengan baik untuk hidup di tanah ini. Nenek moyang
orang maluku kita kenal datang ke Papua untuk memberitakan injil, menjadi guru-guru
pertama yg mendidik kami, membuat bangunan-bangunan sekolah, gereja dan telah berkontribusi besar membangun peradaban kami
bangsa Papua.
Satu
pesan kami bangsa Papua; “Tolong jaga dan rawat keharmonisan,
ketentraman, kedamaian, kerukunan hubungan yang sudah terawat lama di tanah ini.
Jangan rusak karya luhur nenek moyang
bangsa maluku yang kita kenal sebagai pewarta injil dan menjadi pionir-pionir
pendidikan yang telah banyak mencerdaskan
anak-anak Papua sejak puluhan tahun
silam. “Orang Maluku harus berdiri paling depan membela orang Papua kalau orang
Papua di perlakukan tidak adil, dibunuh atau di bantai seperti binatang oleh
aparat atau oleh siapa saja, karena nenek moyang orang maluku masuk ke Papua
bukan untuk cari makan atau cari tempat tinggal tapi utk jadi berkat bagi
bangsa Papua.”
Kejahatan
beberapa malam lalu itu suatu tindak brutal, kejam, biadab dan tidak
berperikemanusiaan dan sudah merusak wajah orang Maluku yang kita kenal dahulu.
Seandainya kalau ada salah satu nenek moyang dari Maluku yang masih hidup, dia
pasti menangis sedih. Bagaimana tidak, motivasi besar mereka meninggalkan
kampung halamannya dan sanak saudara (pela gandong), menyeberang lautan,
melawan badai dan ombak serta mempertaruhkan nyawa untuk masuk ke tanah ini
adalah mengajar dan mendidik orang yang kemarin di bantai di tengah jalan
seperti binatang itu.
Dari
sini kami minta dengan hormat kepada yang terkasih rakyat dan tua-tua adat
Maluku di Jayapura dan sekitarnya. Apapun alasannya pelaku kejahatan dan otak
intelektual oknum yang mengajak aksi pembalasan secara membabibuta dan tidak
berperikemanusiaan itu harus di serahkan ke polisi untuk di hukum seberat-beratnya.
Hal yang sama juga berlaku buat seluruh pembuat kejahatan kemanusiaan, tidak
peduli dari suku bangsa manapun.
Sekali
lagi bahwa, tidak ada suku bangsa di Papua yang setuju atau membenarkan
kejahatan seperti itu karena jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral,
adat-istiadat dan agama. Kejahatan oknum harus di tanggung oleh oknum tersebut.
Kalau adik kandung saya terlibat kasus pembunuhan atau kejahatan lainnya, saya
orang pertama yang akan menyerahkan dia ke polisi. Melindungi pembuat kejahatan
walaupun dia saudara kandung saya sama saja merawat kejahatan. Dan karena
kejahatan saudara saya, kalau ada org yang mau menyerang saya itu kejahatan juga
namanya. Kecuali kalau saya terlibat merencanakan kejahatan itu.
Yah,
itu sedikit keluh kesah dan harapan saya. Mari rawat persaudaraan, dukung
penegakan hukum dan tolak tindakan main hakim sendiri yang pada akhirnya hanya
akan merusak hubungan cinta kasih, kedamaian, ketentraman, keakraban dan
kemesraan yang indah antara kita. Hmmm.... satu lagi, sa ada
"pedekate" k ini deng nona Ambon satu jadi sa terganggu skali deng
masalah ini. Sa mo masuk minta buat sa pu sodara tapi situasi ini bisa bikin
kacau ale... hehehe...
-------------
![]() |
| Foto : Alm. Pius Kulua |
Kita
semua hidup atas kuasa dan kehendak Tuhan. Saya tidak pernah memilih lahir
sebagai orang Tolikara di asmat puluhan tahun silam. Saya juga tidak tau kapan
dan dimana saya akan pergi meninggalkan kehidupan dunia. Biarlah semua berjalan
dan terjadi menurut kehendak Tuhan. Kalau ada kejahatan yang dilakukan oleh
kaum suku saya, demi TUHAN itu kejahatan oknum. Kami tidak pernah bermufakat
utk mencuri, merampok atau membunuh siapapun di tanah ini tanpa alasan. Tolong
jangan hukum kami dengan stigma dan label yang sama walaupun mungkin sebagian
pelaku kejahatan dilakukan oleh kaum suku kami. Percayalah, “kami tidak pernah
bermufakat utk itu dan kami juga tidak pernah menyuruh siapapun pergi melakukan
kejahatan terhadap siapapun juga.
Sayang........ Pius Kulua pergi untuk selamanya. Perempuan
tanah dan anak2nya di paksa menjadi janda dan Yatim. Sioooooooo, Sedih skali.
Pius tak sempat lagi dapat mewujudkan mimpi kaum Adam sebagai seorang ayah.
Iya, mimpi utk melihat anak bertumbuh, menyekolahkan anak hingga selesai,
menikahkan anak dengan gadis pilihannya, (nona
Ambon manise misalnya) dan melihat cucu dari anak-anaknya.
Hufffftt.....
sesak dada nih kalo fikir sa yang
menjadi perempuan tanah itu. Entahlah, bagaimana nasib perempuan tanah dan anak-anaknya
yg memikul takdir dengan terpaksa sebagai janda dan yatim. Sayang, sayang,
sayang dan sayang....... Selamat jalan ke kehidupan kekal sobat. Saya tidak
pernah mengenalmu. Tapi karena duka Yang Tidak Perlu ini sa mau berbagi rasa
tentangmu, bersama dengan wanita dan anak-anak yatim yang terpaksa. Rest In
Peace Brother...
----------------------
Ok
bro n sist...., kalo tidak keberatan like n share lagi ke teman lain supaya
saling menghargai dan menghormati sebagai sesama manusia yah... thanks.
Salam
Damai...

Komentar
Posting Komentar