Kenapa Sa Jalan Tidak Pake Baju Hari Senin 20 November 2017 Dari Sentani ke Jayapura?
Satu Tamparan buat anak laki-laki Papua yang tra tau malu
Tadi, Senin/20/11/2017 sa bikin Aksi Jalan Tanpa Baju dari pertigaan sentani, waena, Abepura, Kotaraja, Entrop, polimak, Taman imbi, Kantor Gubernur Dok II Jayapura dari pukul 08.00-10.00 WIT
Waktu Tiba di gerbang masuk kantor gubernur sa gugup juga tadi. Heheheh...... Sebenarnya sa gugup bukan karena apa, sa gugup hanya karena sa lupa kalau hari ini ada pelantikan MRP di Kantor Gubernur. Dan disana ada banyak pasukan gabungan TNI/Polri serta petugas Satpol n Satgas Papeda yg berjaga di setiap jalan masuk. Jadi sa datang tanpa baju di hari pertama org masuk kantor ditambah didalamnya ada event yg bikin kantor gubernur ponoh deng org nih bikin sa rasa lain2 juga ale. 😄😄😄😄😄, hehhe....
Syukurnya sa tdk diinterogasi macam2. Sa tiba di parkiran ada 3 - 5 org satpol ikut dari gerbang sambil teriak2 tapi sa tra ladeni. Sa laju sambil putar2 cari parkiran deng bikin masa bodoh dgn perhatian ratusan org yg melototi k ini. Heheheh.... , pas dapat tampat kosong untuk parkir motor sa stop baru sa ambil baju dari tas dan sa pake kemudian masuk ke kantor gubernur utk ikut saksikan pelantikan.
Jadi sekedar info saja, sa nih dari bayi setelah lahir dari kecil biasa pake baju. Terbiasa beraktifitas kemana2 juga pake baju. apalagi mo ke kantor, sekolah, gereja atau tempat2 umum lainya sa pasti pake baju sobat. Hanya kalau lagi sante di rumah, di kali, pante atau di kebun sa kadang tra pake baju.
Jadi yang tadi dijalan dari sentani sampe kantor gubernur tuh bukan saya sesungguhnya. Saya mencoba nekat melakukan dan menjadi lain dari sy yang biasanya.
Dan selanjutnya saya jalan dalam diam tanpa baju sendiri sambil malastau. Sa jalan sepanjang jalan yg padat merayap di hari pertama minggu ini sambil injak dan kubur rasa malu dalam2 karena sakit hati dan benci terhadap berbagai omonkosong di atas tanah Amungsa. Tanah bangsa Papua yg kaya dan olehnya nasib penduduk negeri ini menjadi tidak pasti.
Sa juga malas kastau orang lain ikut sa karena
sa pikir dong semua pu hak yg memang sa tra bisa ganggu. Sa jalan tanpa baju nih hanya cara saya untuk menghukum dan mempermalukan diri saya sendiri yg pada kenyataannya lahir sebagai laki-laki tapi tidak dapat berbuat banyak untuk menolong mereka di kampung Banti - Timika. Ini cara lain saya lakukan untuk menampar wajah saya sendiri.
sa pikir dong semua pu hak yg memang sa tra bisa ganggu. Sa jalan tanpa baju nih hanya cara saya untuk menghukum dan mempermalukan diri saya sendiri yg pada kenyataannya lahir sebagai laki-laki tapi tidak dapat berbuat banyak untuk menolong mereka di kampung Banti - Timika. Ini cara lain saya lakukan untuk menampar wajah saya sendiri.
Disana berbagai aksi pelecehan, penghinaan, Kekerasan, kejahatan, tidakadilan, Omongkosong, dipamerkan dihadapan sanak saudara lainya disana dan kita semua diam disini. Kita percaya propaganda dan menolak kebenaran. Kita menutup mata, telinga dan hati terhadap jerit tangis dan duka kaum bangsa kita dibawah tekanan militer NKRI. Kita lebih percaya kepada apa yang di beritakan media2 nasional yang bekerja dibawah pengaruh dan kehendak serta tekanan aparat yang jelas2 tidak mau kehilangan muka. Mereka menciptakan seluruh berita untuk membenarkan apapun kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan disana.
Jadi dari sini saya rasa saya pantas dipermalukan karena lahir sebagai anak laki2 yang tidak bisa buat apa-apa. Saya sangat layak dihukum oleh mereka (Rakyat Banti) dan bahkan leluhur serta alam tanah ini karena hanya bisa diam dan menyaksikan berbagai kejahatan dan ketidakadilan yang terjadi diatas tanah ini sebagai kewajaran. Saya selama ini diam dan secara tidak langsung sedang mendukung segala peristiwa ini tetap berlangsung. Jadi saya pantas di hukum. Saya sesungguhnya adalah penghianat yang tidak tau malu Terhadap tanah dan negeri serta bangsa ini.
Tanpa baju di jalan ini cara sa protes karena dan untuk itu. Salam
Hebat ade
BalasHapus